~Di Hati Virgo~
Pagi ini, aku diajak Sasya untuk keliling komplek Pegadu. Aku sudah bangun dari jam enam pagi. Kusiapkan baju yang akan kupakai nanti.
Sambil menunggu jam enam, aku tidur-tiduran dulu di kasurku tercinta. Lalu kuambil handphone yang berada disampingku. Ya begitu lah, kalau aku tidur handphoneku selalau disampingku. Ku-SMS Sasya pagi itu. Aku tak peduli apakah dia sudah bangun atau belum.
To: Sasya
Subject: Pagi yang Bening
Message: Hai, Sya!
Terlalu singkat untuk sebuah pesan. Tapi aku tak peduli. Kukirim pesanku ke nomor Sasya. Hanya beberapa detik saja suara “tokek” keluar dari handphoneku. Suara “tokek” itu bunyi tanda SMS masuk. Ternyata dari Sasya. Itu tandanya dia sudah bangun dan segera menjawab SMS-ku.
From: Sasya
Subject: -
Message: Hy jga Vir! Gmn, pgi ini qta jdi prgi jln shat gg? Msh glp nih..
Kudengar ringtone “tokek” lagi. Kujawab SMS Sasya. Begitu pula seterusnya. Hingga jam lima tiba. Sasya memintaku untuk bersiap-siap karena sebentar lagi ia akan menuju rumahku.
Aku mulai memakai bajuku dan menyiapkan sepatu olahragaku yang berwarna putih itu. Mirip sepatu pemain bola, hanya saja sepatuku alurnya tipis dibanding sepatu pemain bola. Tak lupa, aku membuka dompetku yang berwarna pink itu dan mengambil sejumlah uang yaitu lima puluh ribu rupiah untuk berjaga-jaga. Siapa tahu saja dijalan tiba-tiba lapar karena tidak sarapan pagi sehingga butuh asupan energi.
Di depan rumahku, sudah terdengar suara sepeda motor milik Sasya yang aku hafal banget karena suaranya yang lembut itu. Segera aku berpamitan dengan mamaku yang saat itu sedang rebahan di kasur. Dengan cepat, aku melesat keluar rumah.
Terdapat Sasya yang sedang memarkirkan motornya yang masih bisa dibilang
“baru” itu di depan rumahku. Aku dan Sasya kemudian mulai jalan sehat walaupun tanpa pemanasan terlebih dahulu.
Tidak sampai 30 menit kami sudah sampai di Pegadu. Mengawali perjumpaan jalan sehat, kami lari kecil-kecilan. Sehingga, dengan waktu yang tak lama kami sudah sampai di Pegadu. Kebetulan, rumahku lumayan dekat dengan portal masuk ke Pegadu.
Aku dan Sasya mulai mencari rumah yang Pak Fadli tempati. Ia tinggal di Jalan X yang merupakan julukan dari jalan-jalan yang berawalan huruf “X” di Pegadu. Beliau tiggal di Jalan Xenon nomor 12. Rasa-rasanya aku mulai ingat di mana letak jalan Xenon. Yah, aku ingat! Dulu saat SD, aku sering main ke rumah Surya dan Dian yang terletak di Jalan X. Biasalah, anak SD hobinya main dan keluyuran ke mana ajah.
Kuberitahu ke Sasya letak Jalan Xenon. Sambil menuju ke Jalan X, kami berlari-lari kecil. Di jalan, kami bertemu dengan Gank The JB. Aku dan Sasya menyapa mereka dengan ramah. Begitupula dengan mereka. Aku dan Sasya kemudian melanjutkan misi kami. Sebelum kami bertemu dengan Gank The JB, di kanan jalan, aku melihat sepasang suami-istri yang sedang jalan sehat juga seperti kami. Cuman, bedanya mereka berjalan ke arah selatan sedangkan kami ke arah utara.
Sepasang suami-istri ituh tersenyum padaku. Aku pun membalas senyuman mereka dengan ramah. Sasya pun memandangku aneh dan mulai berkata, “Hei, Vir! Ngapain senyum-senyum sendiri? Kayak orang gila ajah?”
“Heh? Siapa juga yang lagi senyum-senyum sendiri? Tuh tadi ada ibu-ibu pake kerudung sama bapak-bapak pake topi yang lagi senyumin aku. Ya jelas aku balas dengan senyuman juga. Aku kan ramah, Sya! Hehehehe,” jelasku pada Sasya.
“Ya, tapi jangan seramah itu dong, Vir! Masak hantu lo senyumin juga, sih? Mana ada ibu-iu sama bapak-bapak yang jalan lewat sini tadi?” omel Sasya sambil menengok ke segala arah.
“Hah? Masak sih? Kayaknya tadi ada mereka deh!” Kulihat kebelakang dan ternyata sepasang suami istri itu sudah tidak ada. Apa jangan-jangan mereka tadi itu hantu?! Yaaampun!!! Pagi-pagi begini ramah banget mereka senyumin aku sambil nyamar jadi manusia? Hiiiiiii!!!!! Serem!!!
Tapi aku yakin, kok! Tadi ituh manusia beneran! Mata Sasya ajah kali yang gak ngeliat. Tapi kok, kalau dipikir-pikir aneh juga, yah?
...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar