Jumat, 09 Januari 2009

Fishyka (1)

First

~Di Hati Sasya~


“Sekarang, buka buku anda!” kata Pak Fadli, masih dengan secepat kilat. Anak-anak pun mulai membuka buku Fisika mereka. Bab pertama yaitu “Gaya”. Hhh... malasnya belajar Fisika... “Ada yang tahu bahasa Inggrisnya gaya?” tanya tuh guru kemudian.


“Fashion,” jawab Fachri nyeletuk. Sontak, seluruh kelas pun tertawa mendengar jawaban Fachri. Si Fachri emang tukang nyeletuk. Tapi, memang dibutuhkan seorang penghibur untuk menghangatkan suasana bukan? Yep, kelas ini berubah menjadi begitu dingin sejak dimasuki makhluk aneh tadi. Aku saja sampai merinding hanya dengan menatap sepatunya yang hitam mengkilap itu.


Setelah jawaban Fachri, kelas menjadi berisik lagi. Anehnya, tuh guru baru malah diem ajah. Dasar guru aneh. Memang, sih... dari tampangnya, tuh guru emang sama sekali gak punya bakat mengajar. Bakat menghajar pun juga tak punya.


“Kalau kelas ini ribut, saya tidak akan tegur. Saya hanya akan mendiamkan. Saya tidak mau marah-marah,” kata tuh guru akhirnya angkat bicara. Nada bicaranya sok sekali, pakai “saya-anda” pula. Kayak orang baru belajar Bahasa Indonesia ajah.


Kelas pun mulai tenang kembali. Hanya terdengar sayup-sayup dari beberapa anak yang masih ngerumpi di school. Sebenarnya, kelas tenang bukan karena ancaman tuh guru, bukannya enak yah kalau kita bebas ngerumpi dan gak ada pelajaran? Tapi karna rumor tuh guru galak banget. Katanya, tuh guru baru setahun ngajar di SMA Pratama dan diprotes para murid karena sistem mengajar tuh guru yang aneh. Tadinya sih, tuh guru mau ditaruh sebagai penjaga perpustakaan sekolah. Tapi, atas keprihatinan para guru lainnya, jadilah beliau mengajar di SMP Pratama. Sungguh guru yang malang (dan aneh tentunya).

Aku menatap Virgo yang duduk di pojok kelas. Menurutku, ia masih dapat menerima pelajaran Fisika dengan lapang dada. Tidak denganku! Aku paling, sangat malah benci terhadap Fisika. Pelajaran Fisika telah mengantarkanku pada kejadian buruk! Sayang, sepertinya aku salah memilih SMP Pratama sebagai tempat belajarku. Karena di sini, pelajaran Fisika ada setiap hari! Oh, TIDAKK!!!


~Di Hati Virgo~

Aku duduk dibangku pojok berjauhan dengan Sasya. Ya, saat ini pelajaran Fisika. Aku mendengarkan ocehan guru fisika yang bernama Pak Fadli itu. Aku jadi merasa prihatin melihat tingkah lakunya yang seperti orang yang tidak niat hidup. Udah gitu, laptop miliknya diberi stiker cartoon anak-anak yang letaknya tidak beraturan. Rambutnya dibelah dua, bajunya dimasukkan. Memang, sih terlihat rapi. Tapi lebih mendekati terlihat culun.

Pak Fadli mulai menulis berbagai catatan dipapan tulis. Ia menulis dengan ukuran tulisan yang kecil dan miring-miring. Sehingga sulit terlihat dibangku yang kududuki. Perlu memeras mata untuk melihatnya. Apalagi, ia menulis dengan spidol yang berwarna biru sehingga tidak begitu jelas dan tak terang tulisannya.

Pak Fadli menjelaskan pelajaran dengan badan yang bungkuk, seperti orang yang keberatan badan. Padahal badannya kurus ceking. Jadi, terlihat seperti orang susah. Kenapa, ya? Guru itu bisa mengajar dan menjadi guru? Apa karena cuma dia pintar? Pikiranku sama seperti pikirannya Sasya. Guru itu tak ada bakat sama sekali untuk mengajar.

Kemudian, Pak Fadli memberi soal latihan kepada murid kelas 8J. Soal yang diberikan lumayan mudah. Lima soal yang diberikan guru itu kepada kami. Setelah aku selesai mengerjakan, aku melirik ke kanan dan ke kiri karena lagi nggak ada kerjaan. Mau gambar, tapi bosen. Setelah aku menengok kanan dan kiri, aku melihat ke arah papan tulis. Dengan badan agak sedikit bungkuk, guru itu berdiri didepan papan tulis sambil senyum-senyum sendiri ke arah depan. Lalu, ia menuju ke arah meja guru tempat persinggahannya di kelas 8J. Ia membuka buku Fisika kelas delapan sambil tertawa, sedikit terbahak. Hahaha.... Murid-murid pun langsung noleh ke arah sang guru. Tapi anehnya, guru itu nggak nyadar kalau ia sedang diperhatikan seisi ruangan kelas. Murid 8J, terdiam dan melongo melihat guru yang sedang tertawa sendiri itu. Entah apa isi dari buku Fisika yang ia baca.

Selang beberapa menit, para murid pun langsung bercakap-cakap satu sama lain. Membicarakan guru Fisika yang super duper aneh itu.

"Halo-halo!! Ayo semua diam! Kita lanjutkan pelajaran kita!" kata guru itu lembut ke murid-murid yang diajarinya. Para murid pun langsung terdiam hening. Suara jangkrik pun berbunyi. Krik...krik.... Hahaha..... Kayak dimalam hari saja. Lalu, Pak Fadli melanjutkan pelajaran.

Para murid mulai bosan dengan pelajaran Fisika. Kelaspun hening dan hambar. Bagai sayur tanpa garam. Hahaha.... Gimana nggak bosen cobak?! Sudah 3 jam kami duduk dan memperhatikan sang guru menjelaskan pelajaran tanpa ada waktu untuk istirahat! Bokong rasanya keram seperti orang renang tanpa pemanasan. Auuww!!! Capek sekali.

Bel istirahat sudah berbunyi. Tapi, belum ada aba-aba sang guru untuk memberitahukan kepada murid untuk boleh keluar kelas dan istirahat. Murid-murid heran. Jadi, selama 12 menit setelah bel berbunyi, murid kelas 8J masih tetap didalam kelas. Salah satu teman kami yang bernama Arif berdiri dan memprotes kepada sang guru.

"Pak! Ini udah waktunya istirahat! Masak kita nggak dipersilahkan untuk istirahat sih, Pak?!"

"Wah, maaf deh, saya nggak tau kalau ini udah jam istirahat. Ya udah, sekarang kalian boleh istirahat," jawab Pak Fadli.

"Horeee....!!!!!" teriak murid 8J kompak. Huu..... dasar guru yang aneh!


~Di Hati Sasya~


"Hai, Vir!” sapaku pada Virgo yang sedang asyik mencoreti buku Fisikanya.

“Hai, Sya!” balasnya.

“Vir, menurutmu bakal jadi apa pelajaran Fisika dengan guru seaneh Pak Fadli?” tanyaku memulai obrolan. Sebenarnya, aku tahu jawabannya pasti hampir sama dengan jawabanku. Tapi, hanya untuk memastikan keakuratan jawabannya, aku pun menanyainya.

“Mm... Kayaknya, pelajaran Fisika ini bakal jadi tambah aneh,” jawabnya pelan sembari masih mencoreti buku Fisikanya. Mulai bosan corat-coret, Virgo menyandarkan tubuhnya ke dinding di sebelah kanannya. Kemudian ia menatapku dan balik bertanya, “Kalau menurutmu?”

“Hhh.... Yang pasti, pelajaran Fisika bakal tambah parah!” jawabku seputus asa mungkin. “Tau sendiri kan, aku paling benci yang namanya Fisika.”

Virgo tersenyum. Gadis manis dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya itu kini mulai berdiri. Rambutnya yang panjang sebahu diikat ekor kuda. Semua orang juga tahu jika Virgo sangat cantik.

Virgoanna Laurent, gadis cantik yang masih keturunan Tionghoa walaupun matanya gak sipit ini memang menjadi pujaan hati para cowok di seantero sekolah. Kenapa nggak? Tingginya hanya berbeda 2-3 cm dariku. Parasnya cantik, imut, manis, lengkap deh! Rambutnya yang bergelombang itu lembutnya minta ampun! Bikin hati orang iri saja kalau melihat rambut Virgo. Hehehehe.

“Sya, Bondan Prakoso tuh cakep banget, yah?” kata nih anak. Wah, mulai deh penyakit BP-nya nih anak keluar. Dia kan penggemar kedua BP, Bondan Prakoso dan Bambang Pamungkas. Kalau aku sih, cukup M. Roby seorang. Hehehehe.

“Iya, tapi dulu. Waktu masih kecil. Waktu nyanyi ‘Lumba-Lumba’. Sekarang kan dia udah nikah,” jawabku mencoba membuat Virgo sadar kalau Bondan Prakoso gak bakal kawin lagi.

“Iya, gue tau!” jawabnya ketus. “Tapi tetep ajah, cakep!”

“Heh? Yo wis, sak karepmu lah,” jawabku menyerah pada anak yang lumayan keras kepalanya. Lagian, kalau kepalanya lembek, bahaya kan? Bisa-bisa fatal ntar kalau misalnya dia kejedot tembok.

“Hehehehe,” tawanya renyah. Dasar Virgo!
“Eh, habis ini kan pelajaran Olahraga? Ganti baju, yuk?”

“Ayuk!”



Satu...dua...satu...dua.... Segerombolan semut sedang berlari dalam sebuah barisan yang rapi. Lucu juga melihat mereka seperti ini. Sayang, mereka sudah tampak kecapaian karena sudah berlari 10 kali mengitari lapangan basket. Dan begitu teriknya matahari membuat keringat mereka deras bercucuran. Begitu kejamnya sang semut prajurit yang memaksa para semut pekerja mengitari lapangan basket sebanyak 15 kali. Dasar, semut prajurit tak tahu diri! Kalau boleh jujur, para semut tadi adalah para murid 8J.

“Hhh... Hhh...” nafasku mulai tersengal-sengal. Tak habis pikir aku, Pak Pri, guru Olahraga kami ini begitu kejam. Beliau menghukum kami karena telat 2 menit saat pelajaran Olahraga. Lagipula, ini semua kan bukan salah kami. Ini kan gara-gara guru aneh tak tahu diri yang menyebabkan kita kehilangan waktu 12 menit pada jam istirahat. Kok malah kita yang dihukum lari 15 putaran lapangan basket? Ini namanya diskriminasi!!

“Aduh, Sya... aku gak kuat,” rengek Virgo padaku. Dikiranya aku masih kuat untuk berlari lagi? Berjalan pun rasanya aku tak sanggup.

“Sab...bar...” jawabku terbata sambil terus berlari. Ayo, Sya! Semangat! Tinggal satu putaran lagi! Chaiyooo!!!!

“Ayo! Semangat! Tinggal satu putaran lagi! Masak kalah sama pemain bola?” kata Pak Pri dengan nada yang ditinggikan dengan niat mengejek. Ingin rasanya aku melempar wajah Pak Pri dengan sepatu basketnya Pandu. Pak Pri kira kita pemain bola apa yang sanggup lari 50 kali putaran lapangan bola sampai betis meletus?

Hufh! Akhirnya, selesai juga penderitaan gue. Genap, eh, ganjil sudah 15 putaran mengelilingi lapangan basket. Rasanya betis gue bener-bener mau meletus.

Virgo terduduk di sampingku sambil meluruskan kedua kakinya. Keningnya penuh dengan peluh keringat. Kaus olahraganya bahkan sudah basah semua. Kini, kondisinya tak jauh beda denganku.
Namun, tetap saja ada beberapa anak cowok yang meliriknya nakal. Oya, kan novel-novel banyak berkata kalau cowok lebih keren dengan rambut basah. Tapi aku gak habis pikir karena Virgo telah membuat hal itu juga berlaku bagi cewek.

“Aduh, Sya! Ini semua gara-gara Pak Fadli, nih!” keluh Virgo padaku.

“Iyah....” jawabku yang masih ngos-ngosan. Hhh... sepertinya butuh kesabaran tinggi untuk menjadi muridnya Pak Fadli.
Ya gak? Bukannya menjadi seorang perawat di sebuah RSJ juga butuh kesabaran tingkat tinggi? Sayang, untuk mencapai kesabaran tingkat tersebut harus menjalani proses yang amat panjang terlebih dahulu.

~Di Hati Virgo~
Fiuh!! Capeknya pelajaran Olahraga! Belum sempat praktik pelajaran Olahraga, badanku sudah pegal semua. Yah, betul sekali. Kami murid 8J dihukum habis-habisan, yaitu mengitari lapangan basket sebanyak 15 putaran. Udah gitu, lapangan basketnya pun luas sekali, yakni 28.65 m x 15.24 m. Waow! Gilak kan?

Setelah puas berkeliling lapangan, Pak Pri menyuruh murid-murid untuk istirahat. Aku istirahat sejenak sambil menyelonjorkan kaki-kakiku ini. Aku berselonjor disamping Sasya yang juga sedang mengistirahatkan badannya yang sangat lelah itu. Kita diberi waktu istirahat oleh Pak Pri sekitar sepuluh menit. Aku mengajak Sasya untuk pergi kekantin sebentar untuk membeli minuman. Lumayan untuk menyegarkan tubuh kembali setelah puas berputar-putar lapangan.

Aku membeli es teh yang harganya cuman seribuan. Murah bukan? Udah murah, seger lagi! Brrr........ hehehehe.... Aku lalu duduk-duduk di kantin sejenak bersama Sasya. Aku mengawali pembicaraan kita.

"Sya, aku mulai bosen sama ni sekolah! Nggak tau kenapa bosen aja gitu."

"Aku juga sama, Vir! Apalagi karena ada pelajaran Fisikanya plus guru yang aneh," jawab Sasya.

"Bener banget, tuh!" sahutku.

Nggak sengaja, saat aku sedang melihat pemandangan di kantin yang letaknya dekat hutan rimba, aku melihat sesosok pria. Bukan di hutan itu, tetapi ia sedang makan. Pria itu melihat-lihat kearah langit yang begitu cerah dan bersih dengan awan-awan yang berjalan. Kadang pria itu senyum-senyum sendiri, sehabis itu tidak, senyum-senyum lagi, lalu tidak senyum. Begitu pula seterusnya. Sepertinya, ia sedang meratapi nasib, pekikku. Sosoknya sudah tidak asing lagi bagiku. Aku mulai berfikir, siapa ya? Kayaknya pernah kenal.. tapi dimana? Otakku berfikir keras. Aku mengingat-ngingat, siapa orang itu. Ia sedang makan siomay dengan sambal yang banyak. Ditambah dengan kuah yang lezat. Aku memandangi orang itu. Dan tiba-tiba........

"DORR!!!" Teriak seseorang yang terdengar amat keras ditelingaku ini.

Aku tersentak a.k.a keselek. Aku terkaget-kaget. Lamunanku tiba-tiba saja menghilang seketika. Es teh yang berada dimulutku ini langsung menyembur kemuka Sasya yang duduknya bersebrangan denganku yang dibatasi oleh meja kayu untuk makan.

"Buset, dah lu! Mank kamu kira muka gue apa? Seenaknya lu sembur-sembur gituh ajah?" protes Sasya. "Kamu pengen jadi mbah dukun, ya?"

"Yaii..... kamu ini, Sya! bikin aku kaget aja, deh," gumamku.

"Hahaha!!! makanya, jangan keasyikan melamun.. ntar kesambet loh! Ckckckckckc," Sasya mengejekku.

Aku terdiam sejenak. Aku pura-pura marah ke Sasya. Mulutku manyun. Sasya mulai merasa bersalah telah mengejekku.

"Ya...... Virgo marah, nii? Aku minta maaf, ya? Maafin aku, dong? Aku kan cuma bercanda, Vir...." pinta Sasya.

"Hahahaha...." kamu tertipu, Sya! Aku cuman bercanda, kok. Jangan masukin ke hati ya, masukin ke jantung aja, Sya.. Hahaha.

Sasya pun dengan segera memajukan bibirnya ke depan. "Yauda lah, lupakan.. Eh! ngomong-ngomong, kenapa sih kamu ngelamun kayak gitu? Kamu ngelamunin siapa? Gebetan ya?" tanya Sasya menggodaku.

"Itu loh, Sya. Coba liat deh! Itu siapa sih? Kok aneh begitu? Makan, ngeliyat langit, senyum-senyum sendiri. Wah..... aneh sekali," jawabku.

"Mana sih?" gumam Sasya.

"Itu lo! Yang dipojok sendiri pakai seragam guru yang warnanya biru," jelasku.

Sasya pun juga mulai ikut-ikutan mikir. Setelah beberapa detik, ia mulai membuka mulutnya kembali.

"Ohh....... itu to..... itu kan Pak Fadli, Vir. Masak guru sendiri kamu lupakan, sih?" jawab Sasya sambil menaruh tangannya di dadanya dan bergeleng-geleng.

"Yaampuunn........... Pak Fadli to? Kirain siapa... Habis aneh begitu sih, cengengesan sendirian. Hahahaha...." Aku tertawa. Diikuti dengan tawa Sasya.

"Yuk, mari! Persis orang gila, yah?" jawab Sasya dengan berbisik. Soalnya berabe jikalau yang sedang dibicarakan mendengar. Hehehehe.

Aku menyedot minumanku sambil menikmati pemandangan hutan yang indah ini. Aku bercerita ke Sasya. Kenapa ya, Pak Fadli itu aneh banget? Sasya menjawabnya dengan lemas... jawaban Sasya sama denganku. Yah, mungkin dari sononya kali.

Tiba-tiba... Priiiiiiiiiiiiitttttttttttttttt.....................................

"Ayo semua!! Waktu istirahat sudah selesai! Ayo kumpul semua! Cepat!!!" teriak Pak Pri dengan sadisnya.

Aku dan Sasya langsung menuju lapangan. Murid kelas 8J mulai berbondong-bondong memasuki lapangan dengan muka yang sudah ceria karena diberi istirahat oleh Pak Pri setelah beliau menghukum kami. Ternyata hatinya baik juga. Itulah sosok guru. Guru membimbing kita dengan tulus dan tanpa pamrih. Tak lekang oleh waktu pula! Hebat ya... ... ...

Murid kelas 8J, termasuk aku dan Sasya mulai menerima pelajaran olahraga dengan baik, lapang dada dan ikhlas. Kalau kita melakukan sesuatu dengan ikhlas, pasti akan menerima hasil yang baik. Betul tidak? Hahaha...... Kayak Aa' Gym aja.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar