Selasa, 13 Januari 2009

Fishyka (2)

Second


~Di Hati Sasya~
Aku meringkuk lesu di atas tempat tidur. Guling gempal yang aslinya bernama Gyo-Lee itu kupeluk erat. Disebelahku, terbaring sebuah buku raport dengan sebuah nilai merah terpampang di situ. Hhh… Nilai itu, satu-satunya nilai merah di situ, Fisika. Ingin rasanya kubakar saja rapot itu. Namun apa daya, tak sampai hati aku memungut abunya.

Mungkin sudah menjadi kutukan bagiku. Dari semua mata pelajaran IPA, Fisika merupakan nilai terjeulekku. Bahkan nilai Fisikaku lebih jelek dari nilai Ekonomi. Sekarang, malah aku harus diajari Fisika oleh seorang guru yang anehnya minta ampun begitu? Gak sanggup aku!

Brrttt.... Brrttt....
Waduh, ada sms masuk tuh. Tapi HP gue mana yah? Payah! Lupa gue naruhnya. Perasaan tadi masih ada disekitar sini.

“Heepyo! Heepyo!” panggilku sangking putus asanya mencari HP-ku. Seakan HP-ku bisa menjawabnya saja (seandainya bisa). Oya, jangan heran! Hampir semua barang kepunyaanku kuberi nama orang Korea. Seperti HP-ku yang bernama Hee-Pyo dan jurnalku yang bernama Ji-Hyun.

Rupanya sang peng-sms kurang sabar dan mulai menelepon HP-ku. Sayang! Aku belum dapat menemukannya. Aku mulai putus asa sedangkan lagu “Coward” yang dinyanyikan SS501 terus melantun. Hhhh… di manakah tempat persembunyian Heepyo selama ini?

Ringtone HP-ku sudah capai meraung-raung rupanya. Ya ampun! Aku baru ingat! Tadi kan Heepyo tak taruh di bawah bantal! Oh my!

Aku melihat di daftar panggilan tak terjawab. Dari Virgo rupanya. Ada apa gerangan ia hendak meneleponku? Penting sepertinya. Kemudian, kubuka smsnya dan kubaca dengan saksama.

Dari: Virgo_L

Sya! PR fisx apa? Dah ngerjain blum? Aq bingung nih!

Hhh? Kukira penting. Emang penting, sih. Aku pun dengan cekatan membalas sms Virgo. Untung saja dia sms aku. Kalau tidak, kulupakan sudah PR Fisika itu. Dia emang BF gue, deh! Tanpa dia, bakal jadi apa aku besok?

Ke: Virgo_L

Yaelah, Vir..q ajah bru inget..klo misx gg ngerti, ngasal ajah...yg pnting kn ngerjain pr..hehehehe ;)


Hhhh… Apa aku harus mengerjakan semua PR Fisika ituh? Well, ada baiknya kulihat dulu soalnya. Kemudian, kuraih tasku yang tergeletak di bawah kasur. Kuambil seonggok buku Fisika dari dalamnya. Dan kubuka lembaran buku tersebut.

“Sebutkan 5 keuntungan dan lima kerugian dari gaya gesek!” Oh my! Walaupun soalnya cuman satu, tapi kok jawabannya bejibun gituh? Males banget gue nulisnya. Memang sih, di buku paket sudah ada jawabannya 4. Tapi itu berarti sisanya harus dicari sendiri dong?

“Arrgghh!! Pak Fadli keterlaluan, ih!!!!” geramku kesal. Kubanting tubuhku ke kasur dan kututupi seluruh wajahku dengan buku catatan Fisika. Hhh… mengapa di dunia ini harus ada pelajaran Fisika? Ups, ganti pertanyaan ding. Soalnya gak mungkin jika di dunia ini gak ada ilmu Fisika (bayangkan kalau kita tak bisa jalan di atas bumi). Kenapa sih guru yang mengajar pelajaran Fisika gak pernah ada yang bagus, baik, dan enak sistem ngajarnya???

~Di Hati Virgo~

Kriiiiiiiinnnggggg....... Jam wekerku berbunyi dengan kencangnya. Aku masih berkantuk-kantuk ria. Aku memeluk gulingku dengan erat dan tanpa sengaja aku pun tertidur lagi.

“Virgo!!!!!!! Bangun! Udah pagi tuh, lho! Nanti kamu terlambat naik bus!” teriak mamaku dengan sekeras-kerasnya. Sepertinya, pita suara beliau hampir mau putus. Mama memasuki kamarku, memukulku, dan mematikan AC kamarku dengan maksud agar aku bangun.

“Ayo mandi!” perintah Mama.

“Lo? Kayaknya aku udah mandi, deh,” jawabku.

“Ngawur!” sentak mamaku.

Aku berfikir. Ia kok, aku udah mandi tadi. Kupikir-pikir lagi. Hah?! Ternyata, aku hanya mimpi. Yaampun! Kok gila banget, sih? Ya, belakangan ini, tiap pagi aku sering mimpi mandi (hah?!).

Setelah mandi, aku berpakaian dan sarapan. Saat makan sarapan, aku berfikir. Gimana, ya nilai PR Fisikaku nanti? Aku ajah ngerjainnya asal-asalan. Kalau misalnya dikumpul gimana? Huh!

Aku kembali melanjutkan makanku. Yaitu makan nasi goreng dengan sosis panjang di atasnya. Nyam... nyam... nyam... lezat sekali! Selesai makan, kulanjutkan dengan minum susu. Biar gak lapar sesampai di sekolah.

***

“Hai, Sya!” sapaku ke Sasya yang sedang duduk-duduk di bangku depan kelas.

“Hai juga, Vir!” jawabnya ramah.

Aku langsung saja duduk di samping Sasya. Biasanya, saat nyampai di sekolah, aku langsung duduk-duduk bersama Sasya di depan kelas tanpa menaruh tasku di dalam kelas terlebih dahulu. Males, sih. Mendingan ntar sekalian masuk kelas. Daripada bolak balik lagi. Ya, kan? Kalau Sasya sih sudah naruh tasnya di kelas dan langsung memandangi alam yang masih segar di pagi hari. Mumpung di sekitar sini belum terlalu tercemar polusi.

“Mmm, Vir! Giman PR Fisikamu? Bisa kah ngerjain semalem?” tanya Sasya memulai pembicaraan.

“Bisa sih, Sya. Cuman, ya gitu. Semuanya ngarang. Habis, yang dibuku cuman dikit sih contohnya,” jawabku.

Hari ini, jadwal pelajaran pertama adaah Bahasa Inggris. Aku dan Sasya masih duduk di depan kelas sembari menunggu bel masukan dan do’a bersama di kelas. Di situ, aku ngobrol banyak banget dengan Sasya.

Pelajaran Bahasa Inggris dimulai. Murid kelas 8J mulai tekun untuk belajar.

“Good morning class!” sapa Miss Rana sedikit teriak.

“Good morning Miss!!” sahut anak-anak serempak.

“How are you today?” tanya Miss Rana ke semua murid 8J.

“Fine, thank you. And you?” jawab anak-anak.

“I’m fine too,” jawab Miss Rana sambil mengawali perjumpaan kami.

Kumpulan rumus-rumus Bahasa Inggris mulai merajalela di otak kiriku. Hampir saja aku bosan dengan pelajaran Bahasa Inggris. Tapi itu tak boleh terjadi! Aku berusaha tetap semangat. Untung saja setelah pelajaran Bahasa inggris istirahat. Jadi, bisa merefressh otak setelah otak ini terisi rumus-rumus bahasa Inggris yang muantaph!

Pelajaran Bahasa Ingris pun berlalu. Kali ini saatnya istirahat. Biasanya saat istirahat, aku, Sasya dan Della pergi ke kantin untuk mengisi perut. Namun kali ini, kami ke perpustakaan untuk meminjam buku. Tapi bukan buku pelajaran, melainkan novel (ya iya lah).

“Hai, Pak! Minjem buku,” sapaku pada Pak Muhin yang sedang asyik mendata buku-buku baru.


“Eh, Virgo?” jawab Pak Muhin. “Della dan Sasya ikut juga, toh?”


“Hehehehe...” jawab Sasya dan Della kompak.


Kemudian, kami langsung meluncur memilih buku-buku yang tersedia di rak dengan rapi. Della mencari-cari novel yang baru terbit. Sasya melihat-lihat prolog dari novel yang bejibun itu. Sedangkan aku, hanya melihat cover novelnya saja. Biasanya, kalau covernya bagus, ceritanya juga bagus.


Bermenit-menit berlalu. Kami bertiga sudah memilih buku novel yang kami cari dan siap membawa novel-novel itu ke Pak Muhin.


Sambil menunggu Pak Muhin mencatat novel-novel yang kami pinjam, kami mengelilingi perpustakaan. Della mengelilingi perpustakaan sendiri. Sedangkan aku dan Sasya mengelilingi perpustakaan berdua. Perpustakaan ini cukup besar dengan 7 buah rak buku yang besar-besar dan berderet di dinding.

~Di Hati Sasya~


Aku terperanjat saat melihat sosok yang tidak asing lagi sedang sesenggukan di pojok perpustakaan. Segera saja aku mencolek lengan Virgo yang berada tepat disampingku.


“Vir, itu yang di pojok bukannya Pak Fadli, yah?” tanyaku.

“Heh? Kayaknya sih iya. Tapi kok bahunya naik-turun? Kayak lagi nangis,” balas Virgo. Iya, sih kayaknya Pak Fadli emang lagi nangis.

“Tapi kenapa, yah?” tanyaku penasaran. Gak mungkin kan Pak Fadli nangis gara-gara permennya ilang atau gara-gara balonnya meletus? Beliau kan bukan anak umur 3 tahun.

“Aku juga gak tau...”

Kami pun mendongak, mencoba melihat penyebab Pak Fadli menangis. Masalahnya, jika misalnya beliau menangis tanpa sebab, kan aku dan Virgo dapat melapor ke RSJ terdekat secepatnya.

Hah?! Aku tersentak ketika menemukan jawaban itu.

“Sebuah novel?!” kataku dan Virgo berbarengan dengan penuh tanda tanya. Kami yang saling berhadapan mencoba menemukan kepastian jawaban tadi di mata masing-masing. Oh my! Seorang guru Fisika cowok menangis karena membaca novel? I can’t believe it!

“Sya, coba kamu lihat judulnya!” pinta Virgo. Aku pun mulai memeras mataku yang tergolong masih normal itu. Tunggu dulu! Sepertinya aku kenal cover novel itu. Oh my! Ituh kan novel “teenlit” yang kupinjam seminggu yang lalu. Kok Pak Fadli bisa sampai nangis, sih bacanya? Della saja yang mudah trenyuh hatinya matanya hanya berkaca-kaca saat membaca novel itu. Aku pun tak sampai menangis membacanya. Itu berarti Pak Fadli lebih halus perasaanya dariku dan Della, dong? GUBRAAAKKK!!!

“Sya, apa judulnya?” tanya Virgo penasaran.

Aku hanya menatap Virgo nanar. Tampang prihatin kupasang karena Pak Fadli. Tak sampai hati aku memberi tahu Virgo judul novel itu. Karena hanya ada dua kemungkinan akan reaksi Virgo. Pertama, bengong dengan mulut terbuka lebar hingga nyamuk tergoda masuk ke sana. Kedua, tertawa terbahak-bahak hingga uratnya putus. Tak ada satu kemungkinan baik pun.

“Nih, bukunya udah,” kata Pak Muhin menyelamatkan Virgo dari dua kemungkinan buruk itu. Setidaknya, Virgo sudah melupakan judul buku itu, walaupun cuma untuk sesaat.

Setelah dari perpustakaan, kami memutuskan untuk segera kembali ke kelas. Kami pun menuruni anak-anak tangga. Perpustakaan sekolah ini berada di lantai dua di samping tangga utama. Sedangkan kelas kami berada di lantai satu di samping lapangan basket.

Oh, ya! Sedikit banyak tentang sekolah ini. SMP Pratama ini milik Yayasan Pratama Kependidikan (YPK), sama seperti TK Pratama, SD Pratama, dan SMA Pratama. Semua sekolah ini dibangun berdekatan dan kawasannya biasa disebut “Komplek Pratama.”

SMP Pratama memiliki 30 ruang kelas. Sebuah perpustakaan, ruang multimedia, Lab. IPA, Lab. Bahasa dan ruang Musik. Sepasang kantin, Lab. Komputer dan ruang guru. Ruangannya ber AC semua dan baju seragam kami imut tak ada tandingannya.

Seragam kami yaitu sebuah rompi bermotif kotak-kotak berwarna putih dan biru kehitaman, sebuah kemeja warna putih, dasi panjang dan rok atau celana warna biru muda, ini dipakai setiap hari Senin-Jumat. Sedangkan setiap hari Kamis dan Jumat kami memakai kemeja warna biru kehitaman berbatik putih yang dipadu dengan rok atau celana bermotif kotak-kotak warna putih dan biru kehitaman.

Sedangkan para guru berseragam kemeja polos warna biru kehitaman dengan celana atau rok putih setiap hari Senin-Rabu. Dan baju batik berwarna dasar coklat dengan bawahan hitam dipakai setiap Kamis dan Jumat.

Nah, komplek Pratama sendiri memiliki berbagai fasilitas Olahraga. Misalnya, 3 buah lapangan basket, 2 buah lapangan voli, 2 buah lapangan tenis (outdoor), 1 buah lapangan sepakbola, dan 4 buah lapangan bulu tangkis indoor (sekaligus aula). Komplek ini juga memiliki sebuah masjid yang bernama Masjid Al-Fatah (artinya fatah kan pertama).

Komplek ini dibangun persis di antara Komplek Perumahan Griya Gerai Alam I dan Komplek Perumahan Griya Gerai Alam II. Aku dan Virgo tinggal di Komplek Perumahan Griya Gerai Alam I, sedangkan Della tinggal di Komplek Perumahan Griya Gerai Alam II.

Mm... mengenai jadwal sekolah. Kami seperti biasa, masuk pukul 7 pagi dan pulang pukul 2 siang. YPK sendiri menyediakan fasilitas bus sekolah. Jadwal pelajaran kami yaitu: pelajaran pertama 3 kali 40 menit, kemudian istirahat 15 menit, lalu pelajaran kedua 2 kali 40 menit, istirahat lagi 15 menit, dilanjut pelajaran ketiga 2 kali 40 menit, kemudian istirahat dan sholat Zduhur bersama, terakhir pelajarn keempat 2 kali 40 menit, dan pulang.

~Di Hati Virgo~


Sekarang pelajaran Matematika. Kami, murid 8J tidak belajar di kelas melainkan belajar di ruang multimedia, karena ruang kelas 8J belum diberi LCD. Tapi, jika ruang multimedianya sedang dipakai, kami belajar di ruang kelas 9. Soalnya, anak-anak kelas 9 sedang sibuk ujian paktek.

Pak Santo sedang menjelaskan tentang Phytagoras. Aku bisa menerima pelajaran ini dengan baik. Saat Pak Santo sedang membahas jawaban soal latihan, aku asyik menggambar di buku coretanku. Tiba-tiba, angin AC yang begitu kencang menerpa bukuku. Lembar demi lembar dari buku coretanku berterbangan dan... zlep! Ada kertas yang berisi jadwal pelajaran. Kulihat mata pelajaran hari ini dan... Oh no!! Setelah pelajaran Bahasa Indonesia ada pelajaran Fisika. Gimana, nih? Aku nggak bawa buku Fisika.

Nggak mungkin dong, kalau pada jam istirahat nanti aku pulang ke rumah dan mengambil buku tersebut. Waktu istirahat saja hanya 15 menit. Jelas aku tak akan sempat pulang ke rumah.

“Selamat pagi, Pak,” salam murid 8J mengakhiri pelajaran Matematika. Aku terbangun dari lamunanku dan baru menyadari bahwa jam pelajaran Matematika sudah habis.

Segera aku merapikan buku-bukukku yang berserakan di meja. Lalu aku menghampiri Sasya dan Della untuk kembali ke kelas dan menaruh buku. Setelah itu kami bebas menuju kantin. Ingin aku melupakan masalah itu sejenak.

Setelah istirahat usai, Bu Maria memberikan kami pelajaran Bahasa Indonesia. Bu Maria mulai menjelaskan ke anak-anak mengenai surat kabar. Uhhh... Rasanya sudah bosan aku. Kelas satu SMP juga sudah dibahas mengenai surat kabar. Mengapa, sih pelajarn di Indonesia diulang-ulang melulu?

Akhirnya, bel istirahat berbunyi juga. Setelah menimban-nimbang, kuputuskan untuk mengungkapkan isi hatiku pada Sasya dan Della. Seperti biasa, kami duduk berjejer di bangku depan kelas 8J.

“Sya, Dell!” kataku.

“Apaan? Sadel? Itu bukannya yang untuk naik kuda itu, ya?” tanya Sasya berlaga oon.

“Aduh, Sya! Aku serius!” protesku. “Aku gak bawa buku paket Fisika. Gimana, nih?”


“Lho? Kok bisa?” tanya Sasya penasaran yang diikuti dengan matanya yang melotot seperti kucing melihat tikus.

“Aku gak tau buku Fisikanya yang mana. Terus, udah gitu, aku malah bawa buku Kimia sama Biologi,” jelasku.

“Ya ampun, Vir!! Dasar kamu itu,” komentar Della.

“Trus gimana, dong?”

“Wah, di kelas lain hari ini nggak ada yang pelajaran Fisika,” jelas Sasya.

“Yo, wis lah... Tinggal nunggu apa jadinya nanti,” jawabku murung.

Lagian, ini salahku juga, sih. Kenapa sampe ngak terpikirkan olehku untuk membawa buku Sains yang berwarna hijau? Itu buku kan isinya Fisika semua. Eh, aku malah bawa buku Sains yang warna merah dan biru yang masing-masing berisi tentang Biologi dan Kimia. Yaaampun!!!!

Jadi kesimpulannya, untuk pelajaran Fisika hari ini, aku hanya membawa buku tulis catatan dan latihan yang digabung jadi satu. Simple, kan? (Sangadh!)

Aku berusaha menghilangkan pikiran tentang buku itu yang kutinggal di rumah. Kalau aku telepon ke rumah dan meminta untuk diantarkan buku Fisikaku, itu tidak mungkin. Hal yang menyebabkan ketidak mungkinan itu adalah: pertama, kedua orang tuaku sibuk bekerja untuk menafkahi keluargaku dan pembantu. Eh, maksudnya menggaji pembantu. Kedua, Bik Tumi (pembantuku) tidak bisa berkendara. Jarak rumah dan sekolahku kan jauh. Huuhh... Masak mau minta tolong tetangga? Yaampun! Itu malah bikin kerjaan orang lain. Padahal kan itu ulahku sendiri. Please, deh!!

Ya udah lah, biarin. Liat ajah nanti apa yang akan terjadi jikalau Pak Fadli mengetahuiku tidak membawa buku paket Fisika. Seperti apa ya, kisahnya nanti? Apakah tidak ketahuan oleh Pak Fadli? Ataukah sebaliknya? Kita semua makhluk di bumi ini tidak ada yang mengetahui selain yang di atas. Yang punya kuasa atas segala-galanya. Kalau mau tahu, ikuti kisah selanjutnya. Keep reading, babe! ^.^

~Di Hati Sasya~


“Vir... Vir...” kata Della sambil menggeleng-gelengkan kepalanya persis ondel-ondel di Sunda Kelapa alias Batavia alias Jayakarta alias Jakarta.

“Hhh...” Virgo mengembus nafas berat. Sepertinya ia sedang meratapi nasibnya. Matanya lekat menatapi sepatu hitamnya.

“Sabar ya, Vir...” kataku pelan.

Tak lama kemudian, bel masukan setelah istirahat berbunyi. Dengan berat, kami bertiga melangkah memasuki kelas. Kasihan Virgo. Kok bisa-bisanya dia meninggalakan buku Fisikanya?

Seperti biasa, dengan senyum lebar diwajah, badan yang bungkuk serta gaya berjalan yang persis putri Keraton (lambat bin lelet), Pak Fadli berjalan memasuki kelas. Di bawanya setumpuk buku Fisika kelas delapan di lengan kanannya. Aku dapat melihat buku itu tampak meraung-raung ingin melepaskan diri dari genggaman Pak Fadli.

Mendadak, seisi kelas berubah menjadi dingin. Seakan baru saja dimasuki oleh memedi bin saytan. Hiii....!!! Angker! Persis Kuburan Jeruk Purut.

“Selamat siang, anak-anak!” sapa Pak Fadli masih seperti orang dikejar anjing (ngomongnya cepet banget).

“Siang, Pak!” jawab anak-anak tegang. Setelah itu, kelas kembali sunyi. Sepertinya aku dapat mendengar decit spidol Pak Fadli yang mulai menulis di papan tulis.

“Sekarang, keluarkan buku Fisika kalian!” perintah Pak Fadli dengan dingin. Sekarang, sepertinya aku dapat mendengar detak jantung Virgo diujung sana. Bagaimana jikalau Virgo ketahuan gak membawa buku paket? Sepertinya aku terlalu takut untuk membayangkannya. Tau sendiri, rumornya, guru ini sangat tidak ramah.

Pak Fadli kini mulai mengelilingi kelas. Untung beliau mulai dari pojok kiri. Soalnya, Virgo kan duduknya di pojok kanan. Beliau dengan teliti melihat jawaban para murid sambil tersenyum ria. Dasar guru aneh! Punya hobi, kok senyum sendiri?

Sampailah kini beliau di bangkuku. Diliriknya buku catatan sekaligus latihanku yang kuletakkan di atas meja. Beliau hanya senyum-senyum sendiri membaca jawabanku. Anehnya, tiba-tiba senyumnya bertambah lebar saat sampai pada jawabanku yang terakhir. Apa jawabanku aneh, salah, lucu, atau benar? Sayang, tak dapat aku mencerna arti dari semua senyumnya yang membuat enek itu.

Hhh... sebentar lagi giliran Virgo. Setelah PR Dido diperiksa, Pak Fadli siap melangkah ke bangku Virgo. Sepertinya jantungnya bergemuruh sangat kencang. Kulirik Della yang duduk di pojok kanan depan. Ia tampak sekhawatir aku terhadap Virgo. Kudengar kabar burung, seorang murid SMA Pratama yang kedapatan tidak membawa kotak pensil pada jam pelajaran Fisika dihukum menyanyi di tengah lapangan basket oleh Pak Fadli. Kejam sekali beliau.

“Virgo?! Anda kemanakan buku Fisika anda?!” tanya Pak Fadli kejam.

Virgo terlihat seperti orang yang sedang terjerat tali tambang. Suaranya tersangkut di tenggorokannya. Sehingga ia hanya dapat menjawab sebisanya, “Eh... anu... anu....”

“Ke depan kelas!” hardik Pak Fadli lagi. “Sekarang kau nyanyikan lagu Kucing Garong sambil berlutut!!!”

Hah?! Hukuman macam apa ituh? Sontak, seluruh murid tertawa mendengar hukuman itu. Gila aja kali nyanyi Kucing Garong sambil berlutut kayak lagi nyinden. Emang bisa gituh?

“Ayo cepat! Atau anda ingin saya kurangi poin anda 10?!” paksa Pak Fadli.

Dengan berat hati, Virgo melangkah ke depan kelas. Wajahnya yang putih merona kini terlihat merah sepadam buah delima. Tampangnya yang tadinya manis berubah sepahit buah maja. Kasihan Virgo. Kenapa sih, Pak Fadli kejam sekali seperti itu? Bukannya lebih mendingan di suruh lari muterin lapangan basket 5 kali, yah?

Dapat kudengar sorak sorai anak-anak melihat tingkah Virgo. Dapat kulihat mata Virgo tampak berkaca-kaca menahan malu. Bisa dipastikan, besok pasti gosip aneh tentangnya sudah menyebar ke seluruh Komplek Pratama. Tau sendiri kan, Virgo supelnya minta ampun. Kasihan Virgo. Tenang, Vir! Aku berjanji akan membantu membalaskan dendammu. Lagipula, sudah sepantasnya guru seperti itu dikerjai. Ya, kan?

Dengan tampang tak berdosa, Pak Fadli duduk di mejanya sambil nyengir persis cengiran kuda. Dibukanya buku Fisika kelas delapan. Lalu ia mulai membacanya dengan saksama. Ingin sekali rasanya aku lempar cengiran kudanya itu dengan sepatunya Kiki yang ukuran jumbo ituh. Sayang, Kiki duduk nan jauh di depan sana. Sehingga sulit untukku meminjam sepatunya.


“Sasya! Sudah kuputuskan. Aku akan membalas kelakuan jahatnya padaku,” kata Virgo lantang saat kami cukup jauh dari Pak Fadli yang masih di kelas.

“Iya, Vir! Aku dengan senang hati akan membantumu,” jawabku haqqul yakin, seratus persen yakin! “Tapi gimana caranya, Vir?” tanyaku penasaran.

“Gampang itu,” jawab Virgo santai. Dapat kulihat kilatan dimatanya. Sepertinya ia sudah menemukan cara terampuh untuk membalas guru aneh itu.

“Kamu udah nemuin caranya?”

“Belum.” Jedddyaaarrr!!! Kukira dia sudah nemuin caranya. Ternyata belum.

“Yang pasti, kita kuntit dulu tuh guru aneh. Kita selidiki dulu apa kelemahannya. Baru setelah itu kita balas kelakuaannya. Gimana?” tanyanya padaku dengan berapi-api.

“Okeh!” jawabku. Lalu kita mulai ber-high five ria.

“Trus, rencananya gimana?” Eh, si Virgo malah balik bertanya.

“Begini, hari Sabtu besok kamu ada acara, gak?” tanyaku berbisik seperti seorang komandan perang sedang memberitahukan prajuritnya tentang siasat barunya yang dijamin ampuh.

“Mm... Kayaknya gak ada, deh. Kenapa?” tanya Virgo.

“Jalan sehat, yuk?” usulku bersemangat. Ya, lumayan kan ngukur jalan pagi-pagi sambil menyehatkan raga.

“Ayukz!” jawabnya senang. “Tapi katanya mau nguntit Pak Fadli?”

“Begini, nanti kita jalan sehatnya ke Pegadu (Perumahan Griya Gerai Alam II).”

“Kenapa mesti di Pegadu? Kenapa juga gak keliling Pegatu (Perumahan Griya Gerai Alam I) ajah?”

“Nah, Pak Fadli kan tinggal di Pegadu. Kata Cici, rumahnya nomor 12 di Jalan X,” terangku pada Virgo.

Kemudian ia mengangguk-angguk takjub. Senyumnya pun merekah. “Oke, deh! Aku bener-bener udah gak sabar ingin membalas dendam. Hahahaahaha!!!” tawanya menggelegar. Ngeri juga, nih. Soalnya, sekarang Virgo jadi kayak nenek lampir begini. Hehehehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar