Sabtu, 17 Januari 2009

Fishyka (3)

Third


~Di Hati Virgo~


Pagi ini, aku diajak Sasya untuk keliling komplek Pegadu. Aku sudah bangun dari jam enam pagi. Kusiapkan baju yang akan kupakai nanti.

Sambil menunggu jam enam, aku tidur-tiduran dulu di kasurku tercinta. Lalu kuambil handphone yang berada disampingku. Ya begitu lah, kalau aku tidur handphoneku selalau disampingku. Ku-SMS Sasya pagi itu. Aku tak peduli apakah dia sudah bangun atau belum.

To: Sasya

Subject: Pagi yang Bening

Message: Hai, Sya!


Terlalu singkat untuk sebuah pesan. Tapi aku tak peduli. Kukirim pesanku ke nomor Sasya. Hanya beberapa detik saja suara “tokek” keluar dari handphoneku. Suara “tokek” itu bunyi tanda SMS masuk. Ternyata dari Sasya. Itu tandanya dia sudah bangun dan segera menjawab SMS-ku.


From: Sasya

Subject: -

Message: Hy jga Vir! Gmn, pgi ini qta jdi prgi jln shat gg? Msh glp nih..


Kudengar ringtone “tokek” lagi. Kujawab SMS Sasya. Begitu pula seterusnya. Hingga jam lima tiba. Sasya memintaku untuk bersiap-siap karena sebentar lagi ia akan menuju rumahku.

Aku mulai memakai bajuku dan menyiapkan sepatu olahragaku yang berwarna putih itu. Mirip sepatu pemain bola, hanya saja sepatuku alurnya tipis dibanding sepatu pemain bola. Tak lupa, aku membuka dompetku yang berwarna pink itu dan mengambil sejumlah uang yaitu lima puluh ribu rupiah untuk berjaga-jaga. Siapa tahu saja dijalan tiba-tiba lapar karena tidak sarapan pagi sehingga butuh asupan energi.

Di depan rumahku, sudah terdengar suara sepeda motor milik Sasya yang aku hafal banget karena suaranya yang lembut itu. Segera aku berpamitan dengan mamaku yang saat itu sedang rebahan di kasur. Dengan cepat, aku melesat keluar rumah.

Terdapat Sasya yang sedang memarkirkan motornya yang masih bisa dibilang
“baru” itu di depan rumahku. Aku dan Sasya kemudian mulai jalan sehat walaupun tanpa pemanasan terlebih dahulu.

Tidak sampai 30 menit kami sudah sampai di Pegadu. Mengawali perjumpaan jalan sehat, kami lari kecil-kecilan. Sehingga, dengan waktu yang tak lama kami sudah sampai di Pegadu. Kebetulan, rumahku lumayan dekat dengan portal masuk ke Pegadu.

Aku dan Sasya mulai mencari rumah yang Pak Fadli tempati. Ia tinggal di Jalan X yang merupakan julukan dari jalan-jalan yang berawalan huruf “X” di Pegadu. Beliau tiggal di Jalan Xenon nomor 12. Rasa-rasanya aku mulai ingat di mana letak jalan Xenon. Yah, aku ingat! Dulu saat SD, aku sering main ke rumah Surya dan Dian yang terletak di Jalan X. Biasalah, anak SD hobinya main dan keluyuran ke mana ajah.

Kuberitahu ke Sasya letak Jalan Xenon. Sambil menuju ke Jalan X, kami berlari-lari kecil. Di jalan, kami bertemu dengan Gank The JB. Aku dan Sasya menyapa mereka dengan ramah. Begitupula dengan mereka. Aku dan Sasya kemudian melanjutkan misi kami. Sebelum kami bertemu dengan Gank The JB, di kanan jalan, aku melihat sepasang suami-istri yang sedang jalan sehat juga seperti kami. Cuman, bedanya mereka berjalan ke arah selatan sedangkan kami ke arah utara.

Sepasang suami-istri ituh tersenyum padaku. Aku pun membalas senyuman mereka dengan ramah. Sasya pun memandangku aneh dan mulai berkata, “Hei, Vir! Ngapain senyum-senyum sendiri? Kayak orang gila ajah?”

“Heh? Siapa juga yang lagi senyum-senyum sendiri? Tuh tadi ada ibu-ibu pake kerudung sama bapak-bapak pake topi yang lagi senyumin aku. Ya jelas aku balas dengan senyuman juga. Aku kan ramah, Sya! Hehehehe,” jelasku pada Sasya.

“Ya, tapi jangan seramah itu dong, Vir! Masak hantu lo senyumin juga, sih? Mana ada ibu-iu sama bapak-bapak yang jalan lewat sini tadi?” omel Sasya sambil menengok ke segala arah.

“Hah? Masak sih? Kayaknya tadi ada mereka deh!” Kulihat kebelakang dan ternyata sepasang suami istri itu sudah tidak ada. Apa jangan-jangan mereka tadi itu hantu?! Yaaampun!!! Pagi-pagi begini ramah banget mereka senyumin aku sambil nyamar jadi manusia? Hiiiiiii!!!!! Serem!!!

Tapi aku yakin, kok! Tadi ituh manusia beneran! Mata Sasya ajah kali yang gak ngeliat. Tapi kok, kalau dipikir-pikir aneh juga, yah?


~Di Hati Sasya~
...

Selasa, 13 Januari 2009

Fishyka (2)

Second


~Di Hati Sasya~
Aku meringkuk lesu di atas tempat tidur. Guling gempal yang aslinya bernama Gyo-Lee itu kupeluk erat. Disebelahku, terbaring sebuah buku raport dengan sebuah nilai merah terpampang di situ. Hhh… Nilai itu, satu-satunya nilai merah di situ, Fisika. Ingin rasanya kubakar saja rapot itu. Namun apa daya, tak sampai hati aku memungut abunya.

Mungkin sudah menjadi kutukan bagiku. Dari semua mata pelajaran IPA, Fisika merupakan nilai terjeulekku. Bahkan nilai Fisikaku lebih jelek dari nilai Ekonomi. Sekarang, malah aku harus diajari Fisika oleh seorang guru yang anehnya minta ampun begitu? Gak sanggup aku!

Brrttt.... Brrttt....
Waduh, ada sms masuk tuh. Tapi HP gue mana yah? Payah! Lupa gue naruhnya. Perasaan tadi masih ada disekitar sini.

“Heepyo! Heepyo!” panggilku sangking putus asanya mencari HP-ku. Seakan HP-ku bisa menjawabnya saja (seandainya bisa). Oya, jangan heran! Hampir semua barang kepunyaanku kuberi nama orang Korea. Seperti HP-ku yang bernama Hee-Pyo dan jurnalku yang bernama Ji-Hyun.

Rupanya sang peng-sms kurang sabar dan mulai menelepon HP-ku. Sayang! Aku belum dapat menemukannya. Aku mulai putus asa sedangkan lagu “Coward” yang dinyanyikan SS501 terus melantun. Hhhh… di manakah tempat persembunyian Heepyo selama ini?

Ringtone HP-ku sudah capai meraung-raung rupanya. Ya ampun! Aku baru ingat! Tadi kan Heepyo tak taruh di bawah bantal! Oh my!

Aku melihat di daftar panggilan tak terjawab. Dari Virgo rupanya. Ada apa gerangan ia hendak meneleponku? Penting sepertinya. Kemudian, kubuka smsnya dan kubaca dengan saksama.

Dari: Virgo_L

Sya! PR fisx apa? Dah ngerjain blum? Aq bingung nih!

Hhh? Kukira penting. Emang penting, sih. Aku pun dengan cekatan membalas sms Virgo. Untung saja dia sms aku. Kalau tidak, kulupakan sudah PR Fisika itu. Dia emang BF gue, deh! Tanpa dia, bakal jadi apa aku besok?

Ke: Virgo_L

Yaelah, Vir..q ajah bru inget..klo misx gg ngerti, ngasal ajah...yg pnting kn ngerjain pr..hehehehe ;)


Hhhh… Apa aku harus mengerjakan semua PR Fisika ituh? Well, ada baiknya kulihat dulu soalnya. Kemudian, kuraih tasku yang tergeletak di bawah kasur. Kuambil seonggok buku Fisika dari dalamnya. Dan kubuka lembaran buku tersebut.

“Sebutkan 5 keuntungan dan lima kerugian dari gaya gesek!” Oh my! Walaupun soalnya cuman satu, tapi kok jawabannya bejibun gituh? Males banget gue nulisnya. Memang sih, di buku paket sudah ada jawabannya 4. Tapi itu berarti sisanya harus dicari sendiri dong?

“Arrgghh!! Pak Fadli keterlaluan, ih!!!!” geramku kesal. Kubanting tubuhku ke kasur dan kututupi seluruh wajahku dengan buku catatan Fisika. Hhh… mengapa di dunia ini harus ada pelajaran Fisika? Ups, ganti pertanyaan ding. Soalnya gak mungkin jika di dunia ini gak ada ilmu Fisika (bayangkan kalau kita tak bisa jalan di atas bumi). Kenapa sih guru yang mengajar pelajaran Fisika gak pernah ada yang bagus, baik, dan enak sistem ngajarnya???

~Di Hati Virgo~

Kriiiiiiiinnnggggg....... Jam wekerku berbunyi dengan kencangnya. Aku masih berkantuk-kantuk ria. Aku memeluk gulingku dengan erat dan tanpa sengaja aku pun tertidur lagi.

“Virgo!!!!!!! Bangun! Udah pagi tuh, lho! Nanti kamu terlambat naik bus!” teriak mamaku dengan sekeras-kerasnya. Sepertinya, pita suara beliau hampir mau putus. Mama memasuki kamarku, memukulku, dan mematikan AC kamarku dengan maksud agar aku bangun.

“Ayo mandi!” perintah Mama.

“Lo? Kayaknya aku udah mandi, deh,” jawabku.

“Ngawur!” sentak mamaku.

Aku berfikir. Ia kok, aku udah mandi tadi. Kupikir-pikir lagi. Hah?! Ternyata, aku hanya mimpi. Yaampun! Kok gila banget, sih? Ya, belakangan ini, tiap pagi aku sering mimpi mandi (hah?!).

Setelah mandi, aku berpakaian dan sarapan. Saat makan sarapan, aku berfikir. Gimana, ya nilai PR Fisikaku nanti? Aku ajah ngerjainnya asal-asalan. Kalau misalnya dikumpul gimana? Huh!

Aku kembali melanjutkan makanku. Yaitu makan nasi goreng dengan sosis panjang di atasnya. Nyam... nyam... nyam... lezat sekali! Selesai makan, kulanjutkan dengan minum susu. Biar gak lapar sesampai di sekolah.

***

“Hai, Sya!” sapaku ke Sasya yang sedang duduk-duduk di bangku depan kelas.

“Hai juga, Vir!” jawabnya ramah.

Aku langsung saja duduk di samping Sasya. Biasanya, saat nyampai di sekolah, aku langsung duduk-duduk bersama Sasya di depan kelas tanpa menaruh tasku di dalam kelas terlebih dahulu. Males, sih. Mendingan ntar sekalian masuk kelas. Daripada bolak balik lagi. Ya, kan? Kalau Sasya sih sudah naruh tasnya di kelas dan langsung memandangi alam yang masih segar di pagi hari. Mumpung di sekitar sini belum terlalu tercemar polusi.

“Mmm, Vir! Giman PR Fisikamu? Bisa kah ngerjain semalem?” tanya Sasya memulai pembicaraan.

“Bisa sih, Sya. Cuman, ya gitu. Semuanya ngarang. Habis, yang dibuku cuman dikit sih contohnya,” jawabku.

Hari ini, jadwal pelajaran pertama adaah Bahasa Inggris. Aku dan Sasya masih duduk di depan kelas sembari menunggu bel masukan dan do’a bersama di kelas. Di situ, aku ngobrol banyak banget dengan Sasya.

Pelajaran Bahasa Inggris dimulai. Murid kelas 8J mulai tekun untuk belajar.

“Good morning class!” sapa Miss Rana sedikit teriak.

“Good morning Miss!!” sahut anak-anak serempak.

“How are you today?” tanya Miss Rana ke semua murid 8J.

“Fine, thank you. And you?” jawab anak-anak.

“I’m fine too,” jawab Miss Rana sambil mengawali perjumpaan kami.

Kumpulan rumus-rumus Bahasa Inggris mulai merajalela di otak kiriku. Hampir saja aku bosan dengan pelajaran Bahasa Inggris. Tapi itu tak boleh terjadi! Aku berusaha tetap semangat. Untung saja setelah pelajaran Bahasa inggris istirahat. Jadi, bisa merefressh otak setelah otak ini terisi rumus-rumus bahasa Inggris yang muantaph!

Pelajaran Bahasa Ingris pun berlalu. Kali ini saatnya istirahat. Biasanya saat istirahat, aku, Sasya dan Della pergi ke kantin untuk mengisi perut. Namun kali ini, kami ke perpustakaan untuk meminjam buku. Tapi bukan buku pelajaran, melainkan novel (ya iya lah).

“Hai, Pak! Minjem buku,” sapaku pada Pak Muhin yang sedang asyik mendata buku-buku baru.


“Eh, Virgo?” jawab Pak Muhin. “Della dan Sasya ikut juga, toh?”


“Hehehehe...” jawab Sasya dan Della kompak.


Kemudian, kami langsung meluncur memilih buku-buku yang tersedia di rak dengan rapi. Della mencari-cari novel yang baru terbit. Sasya melihat-lihat prolog dari novel yang bejibun itu. Sedangkan aku, hanya melihat cover novelnya saja. Biasanya, kalau covernya bagus, ceritanya juga bagus.


Bermenit-menit berlalu. Kami bertiga sudah memilih buku novel yang kami cari dan siap membawa novel-novel itu ke Pak Muhin.


Sambil menunggu Pak Muhin mencatat novel-novel yang kami pinjam, kami mengelilingi perpustakaan. Della mengelilingi perpustakaan sendiri. Sedangkan aku dan Sasya mengelilingi perpustakaan berdua. Perpustakaan ini cukup besar dengan 7 buah rak buku yang besar-besar dan berderet di dinding.

~Di Hati Sasya~


Aku terperanjat saat melihat sosok yang tidak asing lagi sedang sesenggukan di pojok perpustakaan. Segera saja aku mencolek lengan Virgo yang berada tepat disampingku.


“Vir, itu yang di pojok bukannya Pak Fadli, yah?” tanyaku.

“Heh? Kayaknya sih iya. Tapi kok bahunya naik-turun? Kayak lagi nangis,” balas Virgo. Iya, sih kayaknya Pak Fadli emang lagi nangis.

“Tapi kenapa, yah?” tanyaku penasaran. Gak mungkin kan Pak Fadli nangis gara-gara permennya ilang atau gara-gara balonnya meletus? Beliau kan bukan anak umur 3 tahun.

“Aku juga gak tau...”

Kami pun mendongak, mencoba melihat penyebab Pak Fadli menangis. Masalahnya, jika misalnya beliau menangis tanpa sebab, kan aku dan Virgo dapat melapor ke RSJ terdekat secepatnya.

Hah?! Aku tersentak ketika menemukan jawaban itu.

“Sebuah novel?!” kataku dan Virgo berbarengan dengan penuh tanda tanya. Kami yang saling berhadapan mencoba menemukan kepastian jawaban tadi di mata masing-masing. Oh my! Seorang guru Fisika cowok menangis karena membaca novel? I can’t believe it!

“Sya, coba kamu lihat judulnya!” pinta Virgo. Aku pun mulai memeras mataku yang tergolong masih normal itu. Tunggu dulu! Sepertinya aku kenal cover novel itu. Oh my! Ituh kan novel “teenlit” yang kupinjam seminggu yang lalu. Kok Pak Fadli bisa sampai nangis, sih bacanya? Della saja yang mudah trenyuh hatinya matanya hanya berkaca-kaca saat membaca novel itu. Aku pun tak sampai menangis membacanya. Itu berarti Pak Fadli lebih halus perasaanya dariku dan Della, dong? GUBRAAAKKK!!!

“Sya, apa judulnya?” tanya Virgo penasaran.

Aku hanya menatap Virgo nanar. Tampang prihatin kupasang karena Pak Fadli. Tak sampai hati aku memberi tahu Virgo judul novel itu. Karena hanya ada dua kemungkinan akan reaksi Virgo. Pertama, bengong dengan mulut terbuka lebar hingga nyamuk tergoda masuk ke sana. Kedua, tertawa terbahak-bahak hingga uratnya putus. Tak ada satu kemungkinan baik pun.

“Nih, bukunya udah,” kata Pak Muhin menyelamatkan Virgo dari dua kemungkinan buruk itu. Setidaknya, Virgo sudah melupakan judul buku itu, walaupun cuma untuk sesaat.

Setelah dari perpustakaan, kami memutuskan untuk segera kembali ke kelas. Kami pun menuruni anak-anak tangga. Perpustakaan sekolah ini berada di lantai dua di samping tangga utama. Sedangkan kelas kami berada di lantai satu di samping lapangan basket.

Oh, ya! Sedikit banyak tentang sekolah ini. SMP Pratama ini milik Yayasan Pratama Kependidikan (YPK), sama seperti TK Pratama, SD Pratama, dan SMA Pratama. Semua sekolah ini dibangun berdekatan dan kawasannya biasa disebut “Komplek Pratama.”

SMP Pratama memiliki 30 ruang kelas. Sebuah perpustakaan, ruang multimedia, Lab. IPA, Lab. Bahasa dan ruang Musik. Sepasang kantin, Lab. Komputer dan ruang guru. Ruangannya ber AC semua dan baju seragam kami imut tak ada tandingannya.

Seragam kami yaitu sebuah rompi bermotif kotak-kotak berwarna putih dan biru kehitaman, sebuah kemeja warna putih, dasi panjang dan rok atau celana warna biru muda, ini dipakai setiap hari Senin-Jumat. Sedangkan setiap hari Kamis dan Jumat kami memakai kemeja warna biru kehitaman berbatik putih yang dipadu dengan rok atau celana bermotif kotak-kotak warna putih dan biru kehitaman.

Sedangkan para guru berseragam kemeja polos warna biru kehitaman dengan celana atau rok putih setiap hari Senin-Rabu. Dan baju batik berwarna dasar coklat dengan bawahan hitam dipakai setiap Kamis dan Jumat.

Nah, komplek Pratama sendiri memiliki berbagai fasilitas Olahraga. Misalnya, 3 buah lapangan basket, 2 buah lapangan voli, 2 buah lapangan tenis (outdoor), 1 buah lapangan sepakbola, dan 4 buah lapangan bulu tangkis indoor (sekaligus aula). Komplek ini juga memiliki sebuah masjid yang bernama Masjid Al-Fatah (artinya fatah kan pertama).

Komplek ini dibangun persis di antara Komplek Perumahan Griya Gerai Alam I dan Komplek Perumahan Griya Gerai Alam II. Aku dan Virgo tinggal di Komplek Perumahan Griya Gerai Alam I, sedangkan Della tinggal di Komplek Perumahan Griya Gerai Alam II.

Mm... mengenai jadwal sekolah. Kami seperti biasa, masuk pukul 7 pagi dan pulang pukul 2 siang. YPK sendiri menyediakan fasilitas bus sekolah. Jadwal pelajaran kami yaitu: pelajaran pertama 3 kali 40 menit, kemudian istirahat 15 menit, lalu pelajaran kedua 2 kali 40 menit, istirahat lagi 15 menit, dilanjut pelajaran ketiga 2 kali 40 menit, kemudian istirahat dan sholat Zduhur bersama, terakhir pelajarn keempat 2 kali 40 menit, dan pulang.

~Di Hati Virgo~


Sekarang pelajaran Matematika. Kami, murid 8J tidak belajar di kelas melainkan belajar di ruang multimedia, karena ruang kelas 8J belum diberi LCD. Tapi, jika ruang multimedianya sedang dipakai, kami belajar di ruang kelas 9. Soalnya, anak-anak kelas 9 sedang sibuk ujian paktek.

Pak Santo sedang menjelaskan tentang Phytagoras. Aku bisa menerima pelajaran ini dengan baik. Saat Pak Santo sedang membahas jawaban soal latihan, aku asyik menggambar di buku coretanku. Tiba-tiba, angin AC yang begitu kencang menerpa bukuku. Lembar demi lembar dari buku coretanku berterbangan dan... zlep! Ada kertas yang berisi jadwal pelajaran. Kulihat mata pelajaran hari ini dan... Oh no!! Setelah pelajaran Bahasa Indonesia ada pelajaran Fisika. Gimana, nih? Aku nggak bawa buku Fisika.

Nggak mungkin dong, kalau pada jam istirahat nanti aku pulang ke rumah dan mengambil buku tersebut. Waktu istirahat saja hanya 15 menit. Jelas aku tak akan sempat pulang ke rumah.

“Selamat pagi, Pak,” salam murid 8J mengakhiri pelajaran Matematika. Aku terbangun dari lamunanku dan baru menyadari bahwa jam pelajaran Matematika sudah habis.

Segera aku merapikan buku-bukukku yang berserakan di meja. Lalu aku menghampiri Sasya dan Della untuk kembali ke kelas dan menaruh buku. Setelah itu kami bebas menuju kantin. Ingin aku melupakan masalah itu sejenak.

Setelah istirahat usai, Bu Maria memberikan kami pelajaran Bahasa Indonesia. Bu Maria mulai menjelaskan ke anak-anak mengenai surat kabar. Uhhh... Rasanya sudah bosan aku. Kelas satu SMP juga sudah dibahas mengenai surat kabar. Mengapa, sih pelajarn di Indonesia diulang-ulang melulu?

Akhirnya, bel istirahat berbunyi juga. Setelah menimban-nimbang, kuputuskan untuk mengungkapkan isi hatiku pada Sasya dan Della. Seperti biasa, kami duduk berjejer di bangku depan kelas 8J.

“Sya, Dell!” kataku.

“Apaan? Sadel? Itu bukannya yang untuk naik kuda itu, ya?” tanya Sasya berlaga oon.

“Aduh, Sya! Aku serius!” protesku. “Aku gak bawa buku paket Fisika. Gimana, nih?”


“Lho? Kok bisa?” tanya Sasya penasaran yang diikuti dengan matanya yang melotot seperti kucing melihat tikus.

“Aku gak tau buku Fisikanya yang mana. Terus, udah gitu, aku malah bawa buku Kimia sama Biologi,” jelasku.

“Ya ampun, Vir!! Dasar kamu itu,” komentar Della.

“Trus gimana, dong?”

“Wah, di kelas lain hari ini nggak ada yang pelajaran Fisika,” jelas Sasya.

“Yo, wis lah... Tinggal nunggu apa jadinya nanti,” jawabku murung.

Lagian, ini salahku juga, sih. Kenapa sampe ngak terpikirkan olehku untuk membawa buku Sains yang berwarna hijau? Itu buku kan isinya Fisika semua. Eh, aku malah bawa buku Sains yang warna merah dan biru yang masing-masing berisi tentang Biologi dan Kimia. Yaaampun!!!!

Jadi kesimpulannya, untuk pelajaran Fisika hari ini, aku hanya membawa buku tulis catatan dan latihan yang digabung jadi satu. Simple, kan? (Sangadh!)

Aku berusaha menghilangkan pikiran tentang buku itu yang kutinggal di rumah. Kalau aku telepon ke rumah dan meminta untuk diantarkan buku Fisikaku, itu tidak mungkin. Hal yang menyebabkan ketidak mungkinan itu adalah: pertama, kedua orang tuaku sibuk bekerja untuk menafkahi keluargaku dan pembantu. Eh, maksudnya menggaji pembantu. Kedua, Bik Tumi (pembantuku) tidak bisa berkendara. Jarak rumah dan sekolahku kan jauh. Huuhh... Masak mau minta tolong tetangga? Yaampun! Itu malah bikin kerjaan orang lain. Padahal kan itu ulahku sendiri. Please, deh!!

Ya udah lah, biarin. Liat ajah nanti apa yang akan terjadi jikalau Pak Fadli mengetahuiku tidak membawa buku paket Fisika. Seperti apa ya, kisahnya nanti? Apakah tidak ketahuan oleh Pak Fadli? Ataukah sebaliknya? Kita semua makhluk di bumi ini tidak ada yang mengetahui selain yang di atas. Yang punya kuasa atas segala-galanya. Kalau mau tahu, ikuti kisah selanjutnya. Keep reading, babe! ^.^

~Di Hati Sasya~


“Vir... Vir...” kata Della sambil menggeleng-gelengkan kepalanya persis ondel-ondel di Sunda Kelapa alias Batavia alias Jayakarta alias Jakarta.

“Hhh...” Virgo mengembus nafas berat. Sepertinya ia sedang meratapi nasibnya. Matanya lekat menatapi sepatu hitamnya.

“Sabar ya, Vir...” kataku pelan.

Tak lama kemudian, bel masukan setelah istirahat berbunyi. Dengan berat, kami bertiga melangkah memasuki kelas. Kasihan Virgo. Kok bisa-bisanya dia meninggalakan buku Fisikanya?

Seperti biasa, dengan senyum lebar diwajah, badan yang bungkuk serta gaya berjalan yang persis putri Keraton (lambat bin lelet), Pak Fadli berjalan memasuki kelas. Di bawanya setumpuk buku Fisika kelas delapan di lengan kanannya. Aku dapat melihat buku itu tampak meraung-raung ingin melepaskan diri dari genggaman Pak Fadli.

Mendadak, seisi kelas berubah menjadi dingin. Seakan baru saja dimasuki oleh memedi bin saytan. Hiii....!!! Angker! Persis Kuburan Jeruk Purut.

“Selamat siang, anak-anak!” sapa Pak Fadli masih seperti orang dikejar anjing (ngomongnya cepet banget).

“Siang, Pak!” jawab anak-anak tegang. Setelah itu, kelas kembali sunyi. Sepertinya aku dapat mendengar decit spidol Pak Fadli yang mulai menulis di papan tulis.

“Sekarang, keluarkan buku Fisika kalian!” perintah Pak Fadli dengan dingin. Sekarang, sepertinya aku dapat mendengar detak jantung Virgo diujung sana. Bagaimana jikalau Virgo ketahuan gak membawa buku paket? Sepertinya aku terlalu takut untuk membayangkannya. Tau sendiri, rumornya, guru ini sangat tidak ramah.

Pak Fadli kini mulai mengelilingi kelas. Untung beliau mulai dari pojok kiri. Soalnya, Virgo kan duduknya di pojok kanan. Beliau dengan teliti melihat jawaban para murid sambil tersenyum ria. Dasar guru aneh! Punya hobi, kok senyum sendiri?

Sampailah kini beliau di bangkuku. Diliriknya buku catatan sekaligus latihanku yang kuletakkan di atas meja. Beliau hanya senyum-senyum sendiri membaca jawabanku. Anehnya, tiba-tiba senyumnya bertambah lebar saat sampai pada jawabanku yang terakhir. Apa jawabanku aneh, salah, lucu, atau benar? Sayang, tak dapat aku mencerna arti dari semua senyumnya yang membuat enek itu.

Hhh... sebentar lagi giliran Virgo. Setelah PR Dido diperiksa, Pak Fadli siap melangkah ke bangku Virgo. Sepertinya jantungnya bergemuruh sangat kencang. Kulirik Della yang duduk di pojok kanan depan. Ia tampak sekhawatir aku terhadap Virgo. Kudengar kabar burung, seorang murid SMA Pratama yang kedapatan tidak membawa kotak pensil pada jam pelajaran Fisika dihukum menyanyi di tengah lapangan basket oleh Pak Fadli. Kejam sekali beliau.

“Virgo?! Anda kemanakan buku Fisika anda?!” tanya Pak Fadli kejam.

Virgo terlihat seperti orang yang sedang terjerat tali tambang. Suaranya tersangkut di tenggorokannya. Sehingga ia hanya dapat menjawab sebisanya, “Eh... anu... anu....”

“Ke depan kelas!” hardik Pak Fadli lagi. “Sekarang kau nyanyikan lagu Kucing Garong sambil berlutut!!!”

Hah?! Hukuman macam apa ituh? Sontak, seluruh murid tertawa mendengar hukuman itu. Gila aja kali nyanyi Kucing Garong sambil berlutut kayak lagi nyinden. Emang bisa gituh?

“Ayo cepat! Atau anda ingin saya kurangi poin anda 10?!” paksa Pak Fadli.

Dengan berat hati, Virgo melangkah ke depan kelas. Wajahnya yang putih merona kini terlihat merah sepadam buah delima. Tampangnya yang tadinya manis berubah sepahit buah maja. Kasihan Virgo. Kenapa sih, Pak Fadli kejam sekali seperti itu? Bukannya lebih mendingan di suruh lari muterin lapangan basket 5 kali, yah?

Dapat kudengar sorak sorai anak-anak melihat tingkah Virgo. Dapat kulihat mata Virgo tampak berkaca-kaca menahan malu. Bisa dipastikan, besok pasti gosip aneh tentangnya sudah menyebar ke seluruh Komplek Pratama. Tau sendiri kan, Virgo supelnya minta ampun. Kasihan Virgo. Tenang, Vir! Aku berjanji akan membantu membalaskan dendammu. Lagipula, sudah sepantasnya guru seperti itu dikerjai. Ya, kan?

Dengan tampang tak berdosa, Pak Fadli duduk di mejanya sambil nyengir persis cengiran kuda. Dibukanya buku Fisika kelas delapan. Lalu ia mulai membacanya dengan saksama. Ingin sekali rasanya aku lempar cengiran kudanya itu dengan sepatunya Kiki yang ukuran jumbo ituh. Sayang, Kiki duduk nan jauh di depan sana. Sehingga sulit untukku meminjam sepatunya.


“Sasya! Sudah kuputuskan. Aku akan membalas kelakuan jahatnya padaku,” kata Virgo lantang saat kami cukup jauh dari Pak Fadli yang masih di kelas.

“Iya, Vir! Aku dengan senang hati akan membantumu,” jawabku haqqul yakin, seratus persen yakin! “Tapi gimana caranya, Vir?” tanyaku penasaran.

“Gampang itu,” jawab Virgo santai. Dapat kulihat kilatan dimatanya. Sepertinya ia sudah menemukan cara terampuh untuk membalas guru aneh itu.

“Kamu udah nemuin caranya?”

“Belum.” Jedddyaaarrr!!! Kukira dia sudah nemuin caranya. Ternyata belum.

“Yang pasti, kita kuntit dulu tuh guru aneh. Kita selidiki dulu apa kelemahannya. Baru setelah itu kita balas kelakuaannya. Gimana?” tanyanya padaku dengan berapi-api.

“Okeh!” jawabku. Lalu kita mulai ber-high five ria.

“Trus, rencananya gimana?” Eh, si Virgo malah balik bertanya.

“Begini, hari Sabtu besok kamu ada acara, gak?” tanyaku berbisik seperti seorang komandan perang sedang memberitahukan prajuritnya tentang siasat barunya yang dijamin ampuh.

“Mm... Kayaknya gak ada, deh. Kenapa?” tanya Virgo.

“Jalan sehat, yuk?” usulku bersemangat. Ya, lumayan kan ngukur jalan pagi-pagi sambil menyehatkan raga.

“Ayukz!” jawabnya senang. “Tapi katanya mau nguntit Pak Fadli?”

“Begini, nanti kita jalan sehatnya ke Pegadu (Perumahan Griya Gerai Alam II).”

“Kenapa mesti di Pegadu? Kenapa juga gak keliling Pegatu (Perumahan Griya Gerai Alam I) ajah?”

“Nah, Pak Fadli kan tinggal di Pegadu. Kata Cici, rumahnya nomor 12 di Jalan X,” terangku pada Virgo.

Kemudian ia mengangguk-angguk takjub. Senyumnya pun merekah. “Oke, deh! Aku bener-bener udah gak sabar ingin membalas dendam. Hahahaahaha!!!” tawanya menggelegar. Ngeri juga, nih. Soalnya, sekarang Virgo jadi kayak nenek lampir begini. Hehehehe.

Jumat, 09 Januari 2009

Fishyka (1)

First

~Di Hati Sasya~


“Sekarang, buka buku anda!” kata Pak Fadli, masih dengan secepat kilat. Anak-anak pun mulai membuka buku Fisika mereka. Bab pertama yaitu “Gaya”. Hhh... malasnya belajar Fisika... “Ada yang tahu bahasa Inggrisnya gaya?” tanya tuh guru kemudian.


“Fashion,” jawab Fachri nyeletuk. Sontak, seluruh kelas pun tertawa mendengar jawaban Fachri. Si Fachri emang tukang nyeletuk. Tapi, memang dibutuhkan seorang penghibur untuk menghangatkan suasana bukan? Yep, kelas ini berubah menjadi begitu dingin sejak dimasuki makhluk aneh tadi. Aku saja sampai merinding hanya dengan menatap sepatunya yang hitam mengkilap itu.


Setelah jawaban Fachri, kelas menjadi berisik lagi. Anehnya, tuh guru baru malah diem ajah. Dasar guru aneh. Memang, sih... dari tampangnya, tuh guru emang sama sekali gak punya bakat mengajar. Bakat menghajar pun juga tak punya.


“Kalau kelas ini ribut, saya tidak akan tegur. Saya hanya akan mendiamkan. Saya tidak mau marah-marah,” kata tuh guru akhirnya angkat bicara. Nada bicaranya sok sekali, pakai “saya-anda” pula. Kayak orang baru belajar Bahasa Indonesia ajah.


Kelas pun mulai tenang kembali. Hanya terdengar sayup-sayup dari beberapa anak yang masih ngerumpi di school. Sebenarnya, kelas tenang bukan karena ancaman tuh guru, bukannya enak yah kalau kita bebas ngerumpi dan gak ada pelajaran? Tapi karna rumor tuh guru galak banget. Katanya, tuh guru baru setahun ngajar di SMA Pratama dan diprotes para murid karena sistem mengajar tuh guru yang aneh. Tadinya sih, tuh guru mau ditaruh sebagai penjaga perpustakaan sekolah. Tapi, atas keprihatinan para guru lainnya, jadilah beliau mengajar di SMP Pratama. Sungguh guru yang malang (dan aneh tentunya).

Aku menatap Virgo yang duduk di pojok kelas. Menurutku, ia masih dapat menerima pelajaran Fisika dengan lapang dada. Tidak denganku! Aku paling, sangat malah benci terhadap Fisika. Pelajaran Fisika telah mengantarkanku pada kejadian buruk! Sayang, sepertinya aku salah memilih SMP Pratama sebagai tempat belajarku. Karena di sini, pelajaran Fisika ada setiap hari! Oh, TIDAKK!!!


~Di Hati Virgo~

Aku duduk dibangku pojok berjauhan dengan Sasya. Ya, saat ini pelajaran Fisika. Aku mendengarkan ocehan guru fisika yang bernama Pak Fadli itu. Aku jadi merasa prihatin melihat tingkah lakunya yang seperti orang yang tidak niat hidup. Udah gitu, laptop miliknya diberi stiker cartoon anak-anak yang letaknya tidak beraturan. Rambutnya dibelah dua, bajunya dimasukkan. Memang, sih terlihat rapi. Tapi lebih mendekati terlihat culun.

Pak Fadli mulai menulis berbagai catatan dipapan tulis. Ia menulis dengan ukuran tulisan yang kecil dan miring-miring. Sehingga sulit terlihat dibangku yang kududuki. Perlu memeras mata untuk melihatnya. Apalagi, ia menulis dengan spidol yang berwarna biru sehingga tidak begitu jelas dan tak terang tulisannya.

Pak Fadli menjelaskan pelajaran dengan badan yang bungkuk, seperti orang yang keberatan badan. Padahal badannya kurus ceking. Jadi, terlihat seperti orang susah. Kenapa, ya? Guru itu bisa mengajar dan menjadi guru? Apa karena cuma dia pintar? Pikiranku sama seperti pikirannya Sasya. Guru itu tak ada bakat sama sekali untuk mengajar.

Kemudian, Pak Fadli memberi soal latihan kepada murid kelas 8J. Soal yang diberikan lumayan mudah. Lima soal yang diberikan guru itu kepada kami. Setelah aku selesai mengerjakan, aku melirik ke kanan dan ke kiri karena lagi nggak ada kerjaan. Mau gambar, tapi bosen. Setelah aku menengok kanan dan kiri, aku melihat ke arah papan tulis. Dengan badan agak sedikit bungkuk, guru itu berdiri didepan papan tulis sambil senyum-senyum sendiri ke arah depan. Lalu, ia menuju ke arah meja guru tempat persinggahannya di kelas 8J. Ia membuka buku Fisika kelas delapan sambil tertawa, sedikit terbahak. Hahaha.... Murid-murid pun langsung noleh ke arah sang guru. Tapi anehnya, guru itu nggak nyadar kalau ia sedang diperhatikan seisi ruangan kelas. Murid 8J, terdiam dan melongo melihat guru yang sedang tertawa sendiri itu. Entah apa isi dari buku Fisika yang ia baca.

Selang beberapa menit, para murid pun langsung bercakap-cakap satu sama lain. Membicarakan guru Fisika yang super duper aneh itu.

"Halo-halo!! Ayo semua diam! Kita lanjutkan pelajaran kita!" kata guru itu lembut ke murid-murid yang diajarinya. Para murid pun langsung terdiam hening. Suara jangkrik pun berbunyi. Krik...krik.... Hahaha..... Kayak dimalam hari saja. Lalu, Pak Fadli melanjutkan pelajaran.

Para murid mulai bosan dengan pelajaran Fisika. Kelaspun hening dan hambar. Bagai sayur tanpa garam. Hahaha.... Gimana nggak bosen cobak?! Sudah 3 jam kami duduk dan memperhatikan sang guru menjelaskan pelajaran tanpa ada waktu untuk istirahat! Bokong rasanya keram seperti orang renang tanpa pemanasan. Auuww!!! Capek sekali.

Bel istirahat sudah berbunyi. Tapi, belum ada aba-aba sang guru untuk memberitahukan kepada murid untuk boleh keluar kelas dan istirahat. Murid-murid heran. Jadi, selama 12 menit setelah bel berbunyi, murid kelas 8J masih tetap didalam kelas. Salah satu teman kami yang bernama Arif berdiri dan memprotes kepada sang guru.

"Pak! Ini udah waktunya istirahat! Masak kita nggak dipersilahkan untuk istirahat sih, Pak?!"

"Wah, maaf deh, saya nggak tau kalau ini udah jam istirahat. Ya udah, sekarang kalian boleh istirahat," jawab Pak Fadli.

"Horeee....!!!!!" teriak murid 8J kompak. Huu..... dasar guru yang aneh!


~Di Hati Sasya~


"Hai, Vir!” sapaku pada Virgo yang sedang asyik mencoreti buku Fisikanya.

“Hai, Sya!” balasnya.

“Vir, menurutmu bakal jadi apa pelajaran Fisika dengan guru seaneh Pak Fadli?” tanyaku memulai obrolan. Sebenarnya, aku tahu jawabannya pasti hampir sama dengan jawabanku. Tapi, hanya untuk memastikan keakuratan jawabannya, aku pun menanyainya.

“Mm... Kayaknya, pelajaran Fisika ini bakal jadi tambah aneh,” jawabnya pelan sembari masih mencoreti buku Fisikanya. Mulai bosan corat-coret, Virgo menyandarkan tubuhnya ke dinding di sebelah kanannya. Kemudian ia menatapku dan balik bertanya, “Kalau menurutmu?”

“Hhh.... Yang pasti, pelajaran Fisika bakal tambah parah!” jawabku seputus asa mungkin. “Tau sendiri kan, aku paling benci yang namanya Fisika.”

Virgo tersenyum. Gadis manis dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya itu kini mulai berdiri. Rambutnya yang panjang sebahu diikat ekor kuda. Semua orang juga tahu jika Virgo sangat cantik.

Virgoanna Laurent, gadis cantik yang masih keturunan Tionghoa walaupun matanya gak sipit ini memang menjadi pujaan hati para cowok di seantero sekolah. Kenapa nggak? Tingginya hanya berbeda 2-3 cm dariku. Parasnya cantik, imut, manis, lengkap deh! Rambutnya yang bergelombang itu lembutnya minta ampun! Bikin hati orang iri saja kalau melihat rambut Virgo. Hehehehe.

“Sya, Bondan Prakoso tuh cakep banget, yah?” kata nih anak. Wah, mulai deh penyakit BP-nya nih anak keluar. Dia kan penggemar kedua BP, Bondan Prakoso dan Bambang Pamungkas. Kalau aku sih, cukup M. Roby seorang. Hehehehe.

“Iya, tapi dulu. Waktu masih kecil. Waktu nyanyi ‘Lumba-Lumba’. Sekarang kan dia udah nikah,” jawabku mencoba membuat Virgo sadar kalau Bondan Prakoso gak bakal kawin lagi.

“Iya, gue tau!” jawabnya ketus. “Tapi tetep ajah, cakep!”

“Heh? Yo wis, sak karepmu lah,” jawabku menyerah pada anak yang lumayan keras kepalanya. Lagian, kalau kepalanya lembek, bahaya kan? Bisa-bisa fatal ntar kalau misalnya dia kejedot tembok.

“Hehehehe,” tawanya renyah. Dasar Virgo!
“Eh, habis ini kan pelajaran Olahraga? Ganti baju, yuk?”

“Ayuk!”



Satu...dua...satu...dua.... Segerombolan semut sedang berlari dalam sebuah barisan yang rapi. Lucu juga melihat mereka seperti ini. Sayang, mereka sudah tampak kecapaian karena sudah berlari 10 kali mengitari lapangan basket. Dan begitu teriknya matahari membuat keringat mereka deras bercucuran. Begitu kejamnya sang semut prajurit yang memaksa para semut pekerja mengitari lapangan basket sebanyak 15 kali. Dasar, semut prajurit tak tahu diri! Kalau boleh jujur, para semut tadi adalah para murid 8J.

“Hhh... Hhh...” nafasku mulai tersengal-sengal. Tak habis pikir aku, Pak Pri, guru Olahraga kami ini begitu kejam. Beliau menghukum kami karena telat 2 menit saat pelajaran Olahraga. Lagipula, ini semua kan bukan salah kami. Ini kan gara-gara guru aneh tak tahu diri yang menyebabkan kita kehilangan waktu 12 menit pada jam istirahat. Kok malah kita yang dihukum lari 15 putaran lapangan basket? Ini namanya diskriminasi!!

“Aduh, Sya... aku gak kuat,” rengek Virgo padaku. Dikiranya aku masih kuat untuk berlari lagi? Berjalan pun rasanya aku tak sanggup.

“Sab...bar...” jawabku terbata sambil terus berlari. Ayo, Sya! Semangat! Tinggal satu putaran lagi! Chaiyooo!!!!

“Ayo! Semangat! Tinggal satu putaran lagi! Masak kalah sama pemain bola?” kata Pak Pri dengan nada yang ditinggikan dengan niat mengejek. Ingin rasanya aku melempar wajah Pak Pri dengan sepatu basketnya Pandu. Pak Pri kira kita pemain bola apa yang sanggup lari 50 kali putaran lapangan bola sampai betis meletus?

Hufh! Akhirnya, selesai juga penderitaan gue. Genap, eh, ganjil sudah 15 putaran mengelilingi lapangan basket. Rasanya betis gue bener-bener mau meletus.

Virgo terduduk di sampingku sambil meluruskan kedua kakinya. Keningnya penuh dengan peluh keringat. Kaus olahraganya bahkan sudah basah semua. Kini, kondisinya tak jauh beda denganku.
Namun, tetap saja ada beberapa anak cowok yang meliriknya nakal. Oya, kan novel-novel banyak berkata kalau cowok lebih keren dengan rambut basah. Tapi aku gak habis pikir karena Virgo telah membuat hal itu juga berlaku bagi cewek.

“Aduh, Sya! Ini semua gara-gara Pak Fadli, nih!” keluh Virgo padaku.

“Iyah....” jawabku yang masih ngos-ngosan. Hhh... sepertinya butuh kesabaran tinggi untuk menjadi muridnya Pak Fadli.
Ya gak? Bukannya menjadi seorang perawat di sebuah RSJ juga butuh kesabaran tingkat tinggi? Sayang, untuk mencapai kesabaran tingkat tersebut harus menjalani proses yang amat panjang terlebih dahulu.

~Di Hati Virgo~
Fiuh!! Capeknya pelajaran Olahraga! Belum sempat praktik pelajaran Olahraga, badanku sudah pegal semua. Yah, betul sekali. Kami murid 8J dihukum habis-habisan, yaitu mengitari lapangan basket sebanyak 15 putaran. Udah gitu, lapangan basketnya pun luas sekali, yakni 28.65 m x 15.24 m. Waow! Gilak kan?

Setelah puas berkeliling lapangan, Pak Pri menyuruh murid-murid untuk istirahat. Aku istirahat sejenak sambil menyelonjorkan kaki-kakiku ini. Aku berselonjor disamping Sasya yang juga sedang mengistirahatkan badannya yang sangat lelah itu. Kita diberi waktu istirahat oleh Pak Pri sekitar sepuluh menit. Aku mengajak Sasya untuk pergi kekantin sebentar untuk membeli minuman. Lumayan untuk menyegarkan tubuh kembali setelah puas berputar-putar lapangan.

Aku membeli es teh yang harganya cuman seribuan. Murah bukan? Udah murah, seger lagi! Brrr........ hehehehe.... Aku lalu duduk-duduk di kantin sejenak bersama Sasya. Aku mengawali pembicaraan kita.

"Sya, aku mulai bosen sama ni sekolah! Nggak tau kenapa bosen aja gitu."

"Aku juga sama, Vir! Apalagi karena ada pelajaran Fisikanya plus guru yang aneh," jawab Sasya.

"Bener banget, tuh!" sahutku.

Nggak sengaja, saat aku sedang melihat pemandangan di kantin yang letaknya dekat hutan rimba, aku melihat sesosok pria. Bukan di hutan itu, tetapi ia sedang makan. Pria itu melihat-lihat kearah langit yang begitu cerah dan bersih dengan awan-awan yang berjalan. Kadang pria itu senyum-senyum sendiri, sehabis itu tidak, senyum-senyum lagi, lalu tidak senyum. Begitu pula seterusnya. Sepertinya, ia sedang meratapi nasib, pekikku. Sosoknya sudah tidak asing lagi bagiku. Aku mulai berfikir, siapa ya? Kayaknya pernah kenal.. tapi dimana? Otakku berfikir keras. Aku mengingat-ngingat, siapa orang itu. Ia sedang makan siomay dengan sambal yang banyak. Ditambah dengan kuah yang lezat. Aku memandangi orang itu. Dan tiba-tiba........

"DORR!!!" Teriak seseorang yang terdengar amat keras ditelingaku ini.

Aku tersentak a.k.a keselek. Aku terkaget-kaget. Lamunanku tiba-tiba saja menghilang seketika. Es teh yang berada dimulutku ini langsung menyembur kemuka Sasya yang duduknya bersebrangan denganku yang dibatasi oleh meja kayu untuk makan.

"Buset, dah lu! Mank kamu kira muka gue apa? Seenaknya lu sembur-sembur gituh ajah?" protes Sasya. "Kamu pengen jadi mbah dukun, ya?"

"Yaii..... kamu ini, Sya! bikin aku kaget aja, deh," gumamku.

"Hahaha!!! makanya, jangan keasyikan melamun.. ntar kesambet loh! Ckckckckckc," Sasya mengejekku.

Aku terdiam sejenak. Aku pura-pura marah ke Sasya. Mulutku manyun. Sasya mulai merasa bersalah telah mengejekku.

"Ya...... Virgo marah, nii? Aku minta maaf, ya? Maafin aku, dong? Aku kan cuma bercanda, Vir...." pinta Sasya.

"Hahahaha...." kamu tertipu, Sya! Aku cuman bercanda, kok. Jangan masukin ke hati ya, masukin ke jantung aja, Sya.. Hahaha.

Sasya pun dengan segera memajukan bibirnya ke depan. "Yauda lah, lupakan.. Eh! ngomong-ngomong, kenapa sih kamu ngelamun kayak gitu? Kamu ngelamunin siapa? Gebetan ya?" tanya Sasya menggodaku.

"Itu loh, Sya. Coba liat deh! Itu siapa sih? Kok aneh begitu? Makan, ngeliyat langit, senyum-senyum sendiri. Wah..... aneh sekali," jawabku.

"Mana sih?" gumam Sasya.

"Itu lo! Yang dipojok sendiri pakai seragam guru yang warnanya biru," jelasku.

Sasya pun juga mulai ikut-ikutan mikir. Setelah beberapa detik, ia mulai membuka mulutnya kembali.

"Ohh....... itu to..... itu kan Pak Fadli, Vir. Masak guru sendiri kamu lupakan, sih?" jawab Sasya sambil menaruh tangannya di dadanya dan bergeleng-geleng.

"Yaampuunn........... Pak Fadli to? Kirain siapa... Habis aneh begitu sih, cengengesan sendirian. Hahahaha...." Aku tertawa. Diikuti dengan tawa Sasya.

"Yuk, mari! Persis orang gila, yah?" jawab Sasya dengan berbisik. Soalnya berabe jikalau yang sedang dibicarakan mendengar. Hehehehe.

Aku menyedot minumanku sambil menikmati pemandangan hutan yang indah ini. Aku bercerita ke Sasya. Kenapa ya, Pak Fadli itu aneh banget? Sasya menjawabnya dengan lemas... jawaban Sasya sama denganku. Yah, mungkin dari sononya kali.

Tiba-tiba... Priiiiiiiiiiiiitttttttttttttttt.....................................

"Ayo semua!! Waktu istirahat sudah selesai! Ayo kumpul semua! Cepat!!!" teriak Pak Pri dengan sadisnya.

Aku dan Sasya langsung menuju lapangan. Murid kelas 8J mulai berbondong-bondong memasuki lapangan dengan muka yang sudah ceria karena diberi istirahat oleh Pak Pri setelah beliau menghukum kami. Ternyata hatinya baik juga. Itulah sosok guru. Guru membimbing kita dengan tulus dan tanpa pamrih. Tak lekang oleh waktu pula! Hebat ya... ... ...

Murid kelas 8J, termasuk aku dan Sasya mulai menerima pelajaran olahraga dengan baik, lapang dada dan ikhlas. Kalau kita melakukan sesuatu dengan ikhlas, pasti akan menerima hasil yang baik. Betul tidak? Hahaha...... Kayak Aa' Gym aja.....

Kamis, 08 Januari 2009

Fishyka

Prolog


Seperti biasa, bangku-bangku panjang yang terpaku di dinding di teras depan kelas 8J dipenuhi oleh berbagai anak. Mereka asyik bercanda gurau, ngobrol, tertawa, bahkan ada yang menangis pula! Hahahahaha. Mereka adalah warga kelas 8J. Aneh, bahkan bel masukan tak sanggup menghentikan derai tawa mereka. Hanya sang suhulah yang dapat menghentikan mereka.

Syaura Ashifa, cewek alim ini bersekolah di SMP Pratama. Duduk di kelas 2 SMP dengan teman dekat yang bernama Virgoanna Laurent. Mereka sering berdua kalau di sekolah. Saat itu, mereka lagi nongkrong di depan kelas dan membicarakan hal yang nggak penting. Ya, biasa lah, remaja cewek gituh (halah).

Didepan kelas juga banyak teman-teman mereka. Itung-itung, sambil nunggu guru lah. Suasana pagi itu rame banget. Ini baru hari kedua masuk sekolah semester dua. Hari pertamanya sih nggak ada pelajaran. Hanya ngumpul di lapangan sembari guru-guru memberi sekilas informasi di semester dua. Jadi nggak salah kalau hari itu murid-murid pada berkicau ria.

Tenonenot!! Tenonenot!! Bel masuk berbunyi. Murid-murid pun bergegas memasuki ruangan kelas, termasuk Sasya dan Virgo. Semua murid dalam kelas berdo’a sebelum belajar yang dipandu oleh kepala sekolah lewat speaker. Dan seperti biasa, setelah berdo’a murid-murid langsung ribut lagi. Sambil nunggu guru yang belum datang gituh. Hehehehe.

Sasya pergi ketempat Virgo sambil bicarain tokoh pesepak bola yang mereka idolakan. Mereka disitu mulai duduk manis dan saling ngobrol. Tiba-tiba, salah satu murid melihat sesosok bayangan hitam di depan pintu. Pintu kelas 8J ada kacanya. Jadi, kalau ada orang atau makhluk halus lainnya pasti kelihatan. Salah satu murid itu bernama Farid.

“Eh! Sapa tuh di depan? Ada bayangan hitam! ” teriak Farid.

Anak-anak yang lain pun ikut melihat kearah pintu. Ternyata benar kata Farid. Ada bayangan hitam. Lalu Farid membuka pintu. Dan ternyata, makhluk tadi adalah sesosok pria berbaju hitam yang lagi senyum sendiri. Farid pun langsung linglung. Ternyata itu guru Fisika yang akan mengajar dikelas 8J. Ya, mata pelajaran pertama dikelas 8J yaitu Fisika. Nggak tau kenapa tuh guru malah senyum-senyum sendiri di depan pintu kelas. Bukannya ngetok pintu atau apalah yang biasanya guru-guru lakukan. Dasar guru aneh!

Dengan perlahan (persis putri Keraton), guru itu melangkah memasuki ruangan kelas. Ditaruhnya semua kemenyan, eh, bukunya maksudnya di atas meja guru. Lalu, kebiasaan anehnya pun muncul lagi, senyum! Beliau tersenyum persis orang gila di depan kelas sambil memandangi wajah para murid dengan saksama. Jelas hal ini membuat semua murid terangsang untuk tertawa, geli melihat kelakuan guru itu.

Nama saya Fadli, Fadli Agusetyawan,” kata tuh guru tanpa ditanya dan langsung to the point. Namun sayang, tuh guru ngomongnya persis kayak banci kaleng dikejar petugas Satpol PP, cepet banget! Bukan hanya Sasya dan Virgo yang tidak mendengar nama belakang tuh guru, tapi seisi kelas, termasuk sang cicak yang lagi bertengger di samping Burung Garuda.

Guru itu, berperawakan gak jelas. Wajahnya seperti orang dayak, tapi kok kulitnya gosong? Tubuhnya kutilang (kurus tinggal tulang), dan tingginya kayaknya gak sampai 170 cm. Umurnya sepertinya masih 23-an. Dan penampilannya benar-benar gak cucok dengan seragam guru SMP Pratama yang berwarna biru kehitaman. Jika biasanya guru lain yang memakai seragam ini terlihat sangat cool, tidak dengan guru yang satu ini. Wajahnya persis bulan, tau kan? Bulan itu kan banyak kawah dan gunungnya. Hehehehe. Gak tau deh, bakal jadi apa pelajaran Fisika dengan nih guru. Apa pelajaran Fisika yang membosankan, menjengkelkan, dan membingungkan akan bertambah parah dengan nih guru? Yeah, lihat saja nanti…